Thursday, April 2, 2015

berbagai peristiwa perang

Kemenangan Nabi SAW dan pasukan muslimin atas kaum kafir Quraisy pada Perang Badar ternyata menimbulkan perubahan besar di jazirah Arabia. Pada mulanya, secara umum masyarakat Arabia tidak terlalu perduli dengan ‘kehebohan’ yang terjadi pada suku Quraisy dengan munculnya seseorang, yakni Nabi Muhammad SAW, yang mengaku sebagai Utusan Allah dan menentang keras penyembahan berhala pada masyarakatnya. Apalagi kemudian beliau dan kaum muslimin lainnya ‘terusir’ dari tanah kelahirannya tersebut. Tetapi dengan kemenangan pada Perang Badar tersebut, mereka mulai menunjukkan sikap serius, yakni menganggap Nabi SAW dan kaum muslimin sebagai ancaman besar bagi eksistensi mereka.

Setidaknya ada tiga kelompok besar, yakni kaum musyrikin yang berperadaban dalam kabilah-kabilahnya, seperti suku Quraisy, Ghathafan, dan lainnya. Kedua kaum musyrikin yang kurang berperadaban, yakni kaum Badui yang senang menjarah dan merampok kafilah dalam perjalanan. Dan yang terakhir adalah kaum Yahudi.

Sebenarnya adalah satu kelompok lagi yang tidak kurang berbahayanya, yakni kaum munafik. Mereka ini bisa dikatakan kelompok abu-abu, di luarnya berbaju Islam, tetapi jauh di dalam hatinya sangat membenci Nabi SAW dan kaum muslimin. Melihat kemenangan di Perang Badar, mereka ini merasa tidak mungkin akan bisa mengalahkan Nabi SAW dan kaum muslimin, karena itu mereka memutuskan memeluk Islam dengan tujuan untuk memperoleh ‘keamanan’ dan keuntungan materi. Tetapi diam-diam mereka juga menggerogoti dan melemahkan Islam dari dalam, dan pemimpin kelompok ini adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Sejak awal Nabi SAW membentuk masyarakat muslimin di Madinah, yakni dengan membentuk persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar, beliau telah mengantisipasi adanya kemungkinan seperti itu. Karena itulah beliau membentuk perjanjian perdamaian dan kerjasama dengan kelompok-kelompok tersebut, khususnya dengan kaum Yahudi Madinah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Piagam Madinah. Tetapi tak urung, kemenangan kaum muslimin di Badar membuat kekhawatiran akan hilangnya eksistensi mereka semakin besar, karena itu baik secara diam-diam atau terang-terangan, kelompok-kelompok tersebut makin memusuhi kaum muslimin di Madinah.

Peristiwa pertama, Nabi SAW mendengar berita bahwa kabilah Bani Sulaim, termasuk suku Ghathafan, menghimpun kekuatan untuk menyerang Kota Madinah. Maka beliau segera menggerakkan pasukan berkekuatan duaratus orang berkendara unta menuju perkampungan mereka di Al-Kudr, dan ternyata mereka tidak berani menghadapi dan lari tunggang langgang, dengan meninggalkan limaratus ekor unta yang menjadi ghanimah kaum muslimin.

Di Makkah, Shafwan bin Umayyah, putra dari Umayyah bin Khalaf, tokoh Quraisy yang tewas di Perang Badar, membuat rencana dan siasat untuk membunuh Nabi SAW. Ia mengajak Umair bin Wahb al Jumahi, salah satu algojo Quraisy untuk mewujudkan rencananya. Shafwan menjanjikan akan membiayai kebutuhan keluarga Umair dan menutupi semua hutang-hutangnya jika ia mampu membunuh Nabi SAW, dan Umair menyetujuinya. Konspirasi jahat antara dua orang tersebut diberitahukan malaikat Jibril kepada Nabi SAW ketika Umair tiba di Madinah.

Akhirnya Umair memeluk agama Islam karena diplomasi yang dilakukan Nabi SAW, dengan ‘membongkar’ konspirasi jahat yang dilakukannya hanya berdua dengan Shafwan, di tempat tersembunyi dekat batu besar. Setelah beberapa hari lamanya tinggal di Madinah untuk mempelajari seluk beluk Islam, ia kembali ke Makkah sebagai seorang muslim. Beberapa bulan kemudian ia berhijrah ke Madinah, diikuti oleh beberapa orang Quraisy yang berhasil didakwahi untuk memeluk Islam.

Kaum Yahudi juga tidak tinggal diam, khususnya Bani Qainuqa yang sebagian penduduknya mempunyai keahlian pandai besi, termasuk membuat senjata. Mereka mempunyai pasukan terlatih yang berjumlah 700 prajurit, dan karena itu mereka tidak segan untuk mengejek dan mengganggu kaum muslimin secara terang-terangan. Nabi SAW pernah mengingatkan mereka akan perjanjian perdamaian dalam Piagam Madinah, tetapi mereka masih saja bersikap sombong, bahkan menyepelekan kemenangan kaum muslimin di Perang Badar. Mereka berkata, “Wahai Muhammad, janganlah engkau terpedaya dengan dirimu sendiri karena berhasil membunuh beberapa orang dari kaum Quraisy. Mereka itu orang-orang yang bodoh yang tidak tahu cara berperang. Jika engkau berperang melawan kami, tentulah engkau akan tahu kamilah lawan yang sepadan, engkau belum tentu pernah bertemu (berperang) dengan orang-orang seperti kami….!!”

Mendengar jawaban seperti itu Nabi SAW tetap bersabar, dan berusaha mematuhi butir-butir perdamaian yang telah dikukuhkan. Tetapi melihat kesabaran Nabi SAW itu mereka semakin berani dan lancang saja. Puncaknya adalah peristiwa yang terjadi di pasar Bani Qainuqa, ketika seorang Yahudi berulah sehingga seorang wanita muslimah terbuka auratnya. Wanita itu menjerit dan seorang lelaki muslim membunuh sang Yahudi, lelaki itu ditangkap dan juga dihabisi beramai-ramai oleh orang Yahudi.

Karena peristiwa itu, Nabi SAW mengerahkan pasukan untuk mengepung perkampungan Bani Qainuqa. Kaum Yahudi itu cukup kokoh bertahan di bentengnya karena persediaan makanan mereka juga melimpah. Tetapi setelah limabelas hari pengepungan, Allah menyusupkan rasa takut dan akhirnya mereka menyerah. Ketika Nabi SAW akan memutuskan eksekusi (hukuman) bagi Bani Qainuqa itu, tokoh munafik, Abdullah bin Ubay yang juga berada di antara pasukan muslimin berulah dengan ‘memaksa’ Nabi SAW untuk meringankan hukuman bagi pengkhianat  perjanjian, bahkan kalau memungkinkan memaafkan. Nabi SAW akhirnya hanya melakukan pengusiran kaum Yahudi Bani Qainuqa, dan tidak lagi ‘bertetangga’ dengan Madinah. Dalam tarikh Islam, peristiwa ini disebut dengan Perang Bani Qainuqa.

Dari Makkah, Abu Sufyan bersama duaratus orang bersekongkol dengan kaum Yahudi Madinah untuk membunuh Nabi SAW. Ia telah bernadzar untuk tidak membasahi rambutnya dengan air sebelum ia menyerang Kota Madinah. Tetapi ketika telah berada di bukit Naib, sekitar 12 mil atau 18 km di luar kota Madinah, ternyata ia tidak punya keberanian masuk ke Madinah dengan terang-terangan untuk melakukan pertempuran. Pada malam harinya barulah mereka mengendap-endap memasuki kawasan pemukiman kaum Yahudi. Pertama ia mendatangi rumah Huyai bin Akhtab, tetapi tokoh Yahudi ini menolak menampungnya karena takut menyalahi perjanjiannya dengan Nabi SAW. Kemudian ia mendatangi Sallam bin Misykam, tokoh Yahudi lainnya yang mau menampungnya.

Keesokan harinya Abu Sufyan memerintahkan pasukannya untuk membabat dan membakar kebun kurma milik kaum muslimin di pinggiran kota Madinah. Dua orang Anshar yang berada di kebun itu juga dibunuh. Setelah itu ia berpendapat bahwa ia telah memenuhi nadzarnya, dan ia kembali ke Makkah bersama pasukannya. Nabi SAW langsung bereaksi atas tindakannya tersebut dengan mengirim dan memimpin sendiri pasukan untuk melakukan pengejaran.

Mendengar adanya pengejaran itu, Abu Sufyan mempercepat gerak pasukan, bahkan memerintahkan untuk meninggalkan perbekalannya berupa sawiq (tepung gandum) untuk tidak memperlambat perjalanan. Pasukan muslimin bergerak hingga Qarqaratul Kadr, tetapi tidak mungkin lagi mengejar pasukan kafir Quraisy tersebut. Mereka hanya mendapati perbekalan yang ditinggalkannya berupa sawiq, sehingga dalam sejarah Islam, peristiwa ini disebut dengan Perang Sawiq.

Pada Bulan Muharan tahun 3 Hijriah, Nabi SAW mendengar berita bahwa Bani Tsa’labah dan Bani Muharib, termasuk suku Ghathafan, bersekutu untuk menyerang daerah-daerah di sekitar Madinah, dengan harapan akan bisa melemahkan kekuatan Islam yang mulai tumbuh. Beliau langsung mengerahkan 450 orang prajurit dan memimpinnya sendiri untuk mendatangi dua kabilah tersebut. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang lelaki dari Bani Tsa’labah bernama Jabbar. Ketika dihadapkan kepada Nabi SAW, beliau mengajaknya untuk memeluk Islam dan ia memenuhinya. Jabbar diperintahkan mendampingi Bilal sebagai penunjuk jalan dan ia membawa pasukan muslimin ke tempat berkumpulnya pasukan musuh di mata air Dzi Amar.

Ketika melihat kedatangan Nabi SAW dan pasukannya dari kejauhan, mereka langsung berlarian, berpencar dan bersembunyi menuju gunung-gunung di sekitarnya untuk menyelamatkan diri. Nabi SAW tinggal di mata air itu selama sebulan penuh dengan posisi siap siaga, tetapi tidak ada gangguan dari kabilah-kabilah di daerah Najd tersebut. Hal ini makin memperkokoh eksistensi pemerintahan baru kaum muslimin di Jazirah Arabia, yang berpusat di Madinah. Peristiwa ini disebut dengan Perang Dzi Amar.

Salah satu tokoh Yahudi yang sangat membenci Nabi SAW adalah Ka’b bin Asyraf, dari kabilah Bani Nadhir. Ia orang yang sangat kaya dan mempunyai pengaruh yang besar di Jazirah Arabia karena sering berbuat baik kepada orang-orang Arab. Ia mempunyai benteng sendiri yang cukup kokoh, di bagian belakang perkampungan Yahudi Bani Nadhir, sisi tenggara dari Kota Madinah. Ia juga seorang penyair, dan dengan syair-syairnya itu ia sering memperolok dan menyakiti Nabi SAW dan kaum muslimin lainnya. Dengan syairnya pula ia mempengaruhi orang-orang di Jazirah Arabia untuk memusuhi Islam, bahkan untuk membunuh Nabi SAW. Setelah Perang Badar, ia mendatangi kaum Quraisy di Makkah dan membangkitkan semangat mereka untuk kembali memerangi kaum muslimin.

Karena sikap-sikapnya itulah suatu ketika Nabi SAW menawarkan kepada para sahabat, siapa di antara mereka yang bisa membunuh Ka’b bin Asyraf. Tanggapan pertama datang dari Muhammad bin Maslamah yang sebenarnya sangat mengenal dan berteman baik dengan tokoh Yahudi tersebut sejak masih beragama jahiliah. Dengan tiga atau empat sahabat lainnya, mereka menuju benteng Ka’b bin Asyraf, dan dengan siasat yang jitu, mereka berhasil membunuhnya. (Kisah selengkapnya tentang terbunuhnya tokoh Yahudi tersebut bisa dilihat pada kisah sahabat Muhammad bin Maslamah, pada Laman : Percik Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW atau pada blognya).

Terusirnya kaum Yahudi Bani Qainuqa dari Madinah dan terbunuhnya Ka’b bin Asyraf menyebabkan orang-orang Yahudi di Madinah lebih menaruh hormat kepada Nabi SAW dan Islam, atau lebih tepatnya ketakutan, sehingga mereka tidak lagi berani menyalahi perjanjian pada Piagam Madinah. Tetapi diam-diam mereka tetap menaruh dendam dan permusuhan kepada Islam, walau mungkin tidak terekpresikan secara jelas.

Nabi SAW juga mendengar kabar bahwa beberapa kabilah di Hijaz sedang menghimpun kekuatan untuk menyerang Madinah, maka beliau memobilisasi pasukan hingga tigaratus orang. Beliau membawa pasukan tersebut hingga di suatu tempat yang disebut Buhran di Hijaz. Sekitar satu bulan lamanya pasukan muslimin tinggal di sana, dari Rabiul Akhir 3 H hingga Jumadil awal 3 H, tetapi tidak terjadi sesuatu yang berarti. Mungkin mereka merasa ketakutan setelah melihat kehadiran Nabi SAW dan pasukannya di daerahnya tersebut. Peristiwa ini disebut dengan istilah Perang Buhran.

Memasuki Bulan Jumadil Akhir 3 H, seperti biasanya ketika memasuki musim panas, kaum Quraisy Makkah mempersiapkan kafilah dagangnya ke Syam, dan mereka telah menunjuk pemimpinnya, yakni Shafwan bin Umayyah, tetapi mereka mengalami dilema. Pengalaman sebelum terjadinya Perang Badar di mana terjadi penghadangan oleh kaum Muslimin membuat mereka berfikir dua kali untuk melewati jalur yang biasa dilewatinya. Tetapi untuk melewati jalur pantai di sisi barat Jazirah Arabia mereka juga khawatir, karena kebanyakan penduduk di pesisir telah menjalin perjanjian damai dengan Nabi SAW. Setidaknya mereka akan mengabarkan keberadaan kafilah dagangnya kepada beliau.

Kelangsungan kehidupan di Makkah memang tergantung pada perniagaan yang mereka jalankan. Pada musim panas mereka mengirim kafilah dagang ke Syam, sedang pada musim dingin ke Habasyah. Kalau perniagaan terhambat mereka akan mengalami krisis, karena itulah tidak bisa tidak kafilah itu harus diberangkatkan. Ketika mereka mengalami kebuntuan, Aswad bin Abdul Muthalib menyampaikan usulnya, “Tinggalkanlah jalur pantai, dan ambillah jalur Irak!!”

Jalur Irak adalah jalur perdagangan  ke Syam, melewati bagian Timur dari Madinah, jalur yang sangat jauh memutar jika dari Makkah dan jarang dilewati.  Orang-orang Quraisy sendiri tidak ada yang mengetahui jalur tersebut, maka Aswad mengusulkan untuk mengangkat Furat bin Hayyan dari kabilah Bakr bin Wail sebagai penunjuk jalan, yang memang cukup mengenal daerah tersebut. Ketika didatangkan, Furat berkata, “Teman-teman Muhammad tidak pernah menginjakkan kakinya di jalan ke Irak, jalanan itu merupakan dataran tinggi dan padang pasir.”

Kafilah dagang tersebut segera diberangkatkan dengan diam-diam, hanya sedikit saja kaum Quraisy yang mengetahuinya. Nabi SAW dan kaum muslimin, termasuk mata-mata yang beliau sebarkan, sebenarnya tidak mengetahui rencana kafilah dagang dengan jalur yang tidak biasanya dan tidak terduga tersebut. Tetapi tentunya mudah bagi Allah jika ingin memberikan jalan dan pemberitahuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ada seorang Quraisy bernama Sulaith bin Nu’man yang telah memeluk Islam, tetapi masih tinggal di Makkah tanpa diketahui keislamannya oleh kaum Quraisy. Suatu ketika ia asyik minum-minum khamr bersama Nu’aim bin Mas’ud al Asyjai (yang baru memeluk Islam pada saat Perang Khandaq), dan tanpa menyadarinya karena pengaruh khamr yang sangat kuat, Nu’aim menceritakan tentang keberangkatan kafilah dagang Quraisy tersebut. Mendengar kabar rahasia itu, diam-diam Sulaith pergi ke Madinah dan memberitahukannya kepada Nabi SAW.

Nabi SAW langsung membentuk pasukan berkekuatan seratus orang dengan pimpinan Zaid bin Haritsah. Mereka langsung memacu tunggangannya menembus pada pasir dan tinggal di Qardah untuk melakukan pencegatan. Begitu kafilah dagang Quraisy itu muncul, mereka melakukan serangan mendadak. Tentu saja Shafwan dan rombongannya kalang kabut mendapat serangan tidak terduga itu, dan mereka memilih untuk menyelamatkan diri kembali ke Makkah. Barang-barang perniagaannya ditinggalkan begitu saja dan menjadi ghanimah bagi kaum muslimin. Furat bin Hayyan tertangkap sebagai tawanan, tetapi kemudian ia memeluk Islam di hadapan Nabi SAW.

Peristiwa ini memicu kemarahan kaum Quraisy, dan akhirnya mereka membentuk pasukan untuk melakukan serangan ke Madinah, yang kemudian dikenal sebagai Perang Uhud.

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

kebenaran nabi saw dimata kaisar romawi

Hiraqla dalam istilah Arab, atau dalam kebanyakan literatur umum disebut sebagai Hiraklius, adalah Kaisar Romawi ketika Nabi SAW mengemban Risalah Islamiah. Ia bukan sekedar seorang kaisar semata, tetapi juga seorang yang mempunyai minat tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan, baik pengetahuan keagamaan, tentunya dari agama Nashrani yang dipeluknya, atau juga pengetahuan umum, termasuk ilmu perbintangan (ilmu astronomi atau nujum. An Najm artinya bintang dalam bahasa Arab).

Beberapa tahun sebelum Rasulullah SAW mengirim seorang utusan untuk mendakwahkan agama Islam kepadanya, yakni setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyah, ia telah memperoleh isyarah tentang hadirnya Nabi SAW yang merupakan Nabi akhir zaman, yang diramalkan dalam Injil dan Taurat berasal dari orang Arab, bukan dari kalangan Bani Israil sebagaimana diyakini kaum Yahudi dan Nashrani sebelumnya.

Suatu ketika Hiraqla sedang melakukan pengamatan terhadap peredaran bintang-bintang, kebiasaan yang sering dilakukannya, yang dengan hal itu terkadang ia melakukan ramalan tentang peritiwa apa yang akan terjadi. Saat itu ia melihat dalam ramalannya, bahwa kerajaan al Khitan telah muncul, yaitu suatu kerajaan yang orang-orangnya semua berkhitan. Ketika ramalannya itu disampaikan pada majelis pertemuan kerajaan, para pembesarnya berkata kalau yang berkhitan adalah orang-orang Yahudi, dan ia tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Kalau menghendaki, ia tinggal memerintahkan para amir di bawah kekuasaannya untuk membunuh semua orang Yahudi yang ada.

Ketika permasalahan itu sedang dibahas dengan panasnya, datang utusan dari raja atau pimpinan Ghassan, suatu kabilah Arab yang berada di bawah kekuasaan Romawi, melaporkan tentang adanya nabi dari tanah Hijaz. Segera saja Hiraqla memerintahkan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang nabi dan orang-orang yang mengikutinya itu, apakah mereka orang-orang yang berkhitan? Dan memang benar, para informan itu menyampaikan kalau Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bahkan umumnya orang-orang Arab yang menyembah berhala sekalipun selalu berkhitan. Spontan Hiraqla berkata, “Inilah dia pemimpin umat, sesungguhnya ia telah lahir (dibangkitkan)!!”

Memang, bagi kaum Nashrani yang melakukan pengkajian dengan seksama terhadap Injil, atau kaum Yahudi terhadap Taurat, yang belum banyak ‘terkontaminasi’ atau mengalami banyak perubahan (tambahan atau pengurangan), tentulah mereka akan memperoleh gambaran tentang kehadiran nabi akhir zaman dan penutup kenabian itu berasal dari Jazirah Arabia. Ciri-cirinya cukup lengkap dijelaskan, bahkan juga tempat hijrah beliau. Hiraqla mengirim surat kepada sahabatnya, Ibnu Nathur, pembesar kota Iliya di Syam yang masih termasuk wilayah Romawi, tentang pandangan dan ramalannya tersebut. Ibnu Nathur yang juga seorang ilmuwan dan pemimpin pendeta Nashrani itu membenarkan pandangannya itu, bahkan di kemudian hari ia memeluk Islam, walau akhirnya harus ditebus dengan nyawanya karena kemarahan umatnya.

Pada akhir tahun ke 6 hijriah telah berlangsung perjanjian Hudaibiyah, yang secara tidak langsung merupakan ‘pengakuan kedaulatan’ kaum kafir Quraisy terhadap eksistensi Nabi SAW dan negara Islam yang berpusat di Madinah. Dengan adanya perjanjian itu, Nabi SAW tidak lagi disibukkan dengan ancaman kekuatan kaum musyrikin yang masih memiliki kekerabatan itu, karenanya Nabi SAW mulai mendakwahkan Islam ke wilayah-wilayah di luar jazirah Arabia, termasuk kepada Kaisar Romawi, Hiraqla.

Untuk tugas ini, Nabi SAW mengirim sahabat Dihyah bin Khalifah al Kalbi, seorang sahabat berwajah tampan, yang wajah dan penampilannya mirip malaikat Jibril ketika sedang berwujud sebagai manusia. Isi surat itu antara lain sebagai berikut : Bismillaahir rahmaanir rahiim. Dari Muhammad bin Abdullah, kepada Hiraqla, pemimpin Romawi. Kesejahteraan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Masuklah Islam, niscaya Tuan akan selamat, masuklah Islam, niscaya Allah akan melimpahkan pahala kepada Tuan dua kali lipatnya. Tetapi jika Tuan berpaling (menolak), niscaya Tuan akan menanggung dosa rakyat Arisiyyin.

Nabi SAW juga mengutip firman Allah dalam surat tersebut, yakni QS Ali Imran ayat 64 : Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Dihyah al Kalbi segera berangkat dan berhasil menemui Kaisar Hiraqla yang saat itu sedang melakukan ‘kunjungan kerja’ ke Syam, tepatnya ke Baitul Maqdis, tempat yang juga disucikan oleh kaum Nashrani. Hiraqla segera mengadakan majelis pertemuan untuk menanggapi surat Nabi SAW tersebut, dengan dihadiri para pembesar dan jenderal-jenderal perangnya. Bagaimanapun juga ia masih ingat akan isyarah yang diterimanya tentang kerajaan al Khitan itu, dan ‘naluri kelimuan’-nya terusik untuk bisa mengenal Nabi akhir zaman, yang sebagian ciri-cirinya telah dikenalnya lewat kajian mendalam terhadap Injil. Karena itu ia juga memerintahkan untuk mendatangkan Abu Sufyan bin Harb dan para pengikutnya yang saat itu sedang membawa kafilah dagangnya ke Syam, sebagai salah satu sumber informasi. Seorang penerjemah dihadirkan karena ia tidak menguasai bahasa Arab secara matang dan lengkap.

Ketika surat Nabi SAW mulai dibacakan, keponakan Hiraqla yang berdiri di sampingnya tiba-tiba menghentikan pembacaan surat itu, sambil mendengus marah ia berkata, “Berhenti, surat itu jangan dibacakan hari ini?”

“Mengapa?” Tanya Hiraqla dengan heran.

“Karena ia meyebutkan namanya mendahului nama Tuan, dan ia menyebut Tuan hanya dengan ‘Penguasa Romawi’ bukannya Raja atau Kaisar Romawi!!”

Tampaknya Hiraqla tidak senang dengan argumen keponakannya, yang tampaknya hanya menjilat semata. Dengan tegas ia berkata, “Teruskan membacanya!!”

Setelah selesai pembacaan, sebagai besar pembesar dan jendral Romawi itu menunjukkan reaksi tidak suka atas ajakan Nabi SAW untuk masuk Islam tersebut. Sejenak termenung, kemudian Hiraqla kemudian menghadapkan diri pada rombongan Abu Sufyan bin Harb, dan berkata, “Siapa di antara kalian yang nasabnya paling dekat dengan orang yang mengaku sebagai Nabi ini??”

Abu Sufyan berkata, “Sayalah keluarga yang paking dekat dengannya!!”

Hiraqla mengetahui bahwa Abu Sufyan sedang bermusuhan dengan Nabi SAW. Sebagai seorang raja besar dari sebuah kekuatan di kutub barat, mengimbangi kekuatan kutub timur yang dikuasai oleh Kisra Persia, tentunya ‘pergolakan’ yang terjadi di jazirah Arabia itu tidak luput dari pengamatannya. Karena itu ia membariskan rombongan Abu Sufyan di belakangnya, sambil berkata kepada penerjemahnya, “Katakanlah kepada Abu Sufyan bahwa aku akan menanyakan tentang Muhammad ini, dan katakanlah kepada teman-temannya, kalau ia (yakni, Abu Sufyan) mendustaiku, hendaknya mereka mengatakan kalau ia berdusta."

Tentu saja ucapan bernada ancaman ini membuat keder Abu Sufyan, walau sebenarnya ia ingin mengatakan suatu kebohongan yang bisa merusakkan citra Nabi SAW. Ia berkata dalam hatinya, “Demi Allah, kalau tidaklah aku takut mendapat malu dikatakan sebagai pendusta, tentulah aku akan mengatakan yang bohong tentang dirinya (Nabi SAW)!!”

Hiraqla menanyakan beberapa hal satu persatu, dan Abu Sufyan memberikan penjelasan, bahwa Nabi Muhammad SAW itu adalah orang yang leluhurnya mempunyai kedudukan yang mulia di kalangan kaum Quraisy Makkah, yakni dari kalangan bangsawan. Dan sebelumnya tidak ada orang yang mengatakan (mendakwahkan) seperti apa yang beliau sampaikan itu. Tidak ada di antara nenek moyang beliau yang menjadi raja. Sebelum dia (Nabi SAW) mendakwahkan ajarannya itu, kaum Quraisy atau orang Arab lainnya tidak pernah ada yang menuduhnya sebagai pendusta, bahkan mereka sangat mempercayainya. Kebanyakan para pengikutnya adalah dari kalangan orang-orang yang lemah, tetapi para pengikutnya semakin hari semakin bertambah saja. Dan tidak ada orang yang murtad setelah memasuki agama (Islam) itu karena merasa benci dengan agamanya. Dan selama hidupnya, sejak masih kecil ia tidak pernah berkhianat.

Setelah perkataannya itu, Abu Sufyan segera menyambungnya, “Saat ini kami sedang terlibat perjanjian dengan dirinya (yakni, perjanjian Hudaibiyah), dan kami tidak tahu apa yang diperbuatnya dengan perjanjian itu (yakni tetap teguh mematuhinya, atau melanggarnya)!!”

Memang, salah satu klausul dalam perjanjian Hudaibiyah itu tampak tidak adil dan tidak seimbang, yang secara sepintas merugikan pihak kaum muslimin, yaitu : Jika ada orang Makkah yang lari ke Madinah, walau dia telah memeluk Islam maka Nabi SAW harus mengembalikannya ke Makkah (artinya, tidak boleh menerimanya tinggal di Madinah), tetapi jika ada orang Madinah yang kembali ke Makkah (yakni murtad), maka Nabi SAW tidak boleh menuntutnya untuk dikembalikan ke Madinah.

Mungkin Abu Sufyan berfikir, bisa saja Nabi SAW ‘mengingkari’ atau mengkhianati klausul yang satu itu, walau prasangkanya itu salah besar. Memang ada beberapa kaum Quraisy yang memeluk Islam dan bermaksud tinggal di Madinah, seperti Abu Jandal bin Suhail, Abu Bashir dan beberapa lainnya, tetapi dengan berat hati Nabi SAW menolak atau menundanya karena sifat amanah beliau. Akhirnya Allah SWT yang memberikan jalan keluar bagi mereka sehingga kaum Quraisy sendiri yang meminta klausul itu dibatalkan, dan mereka bisa berkumpul bersama Nabi SAW di Madinah.

Hiraqla bertanya lagi, “Apakah kalian memerangi dirinya? Bagaimana peperangan antara kalian itu?”

Abu Sufyan berkata, “Kami memang memeranginya dan kemenangan silih berganti, terkadang kami memenanginya dan terkadang mereka yang memang!!”

Hiraqla berkata, “Apa yang diperintahkannya kepada kalian?”

Abu Sufyan berkata, “Dia (Nabi SAW) memerintahkan untuk menyembah Allah Yang Esa semata, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Meninggalkan agama yang diajarkan nenek moyang kami, mengerjakan shalat, bershadaqah, berkata benar, menghindarkan diri dari larangan Allah, menjaga kehormatan diri dan melangsungkan silaturahmi…!!”

Hiraqla tampak merenung setelah mendengar penjelasan Abu Sufyan itu, seolah ingin meresapi dan mendalami makna-maknanya, kemudian ia menjelaskan, “Aku menanyakan kepadamu tentang nasabnya, dan engkau katakan bahwa dia berasal dari orang yang terpandang di antara kalian, memang seperti itulah, para rasul dibangkitkan dari suatu nasab yang mulia di antara kaumnya….!!”

Dan Hiraqla menjelaskan lebih lanjut, bahwa ia bertanya apa ada orang yang mendakwahkan seperti itu sebelumnya, dan dijawab tidak ada. Maka Hiraqla menyimpulkan, jika memang ada, itu berarti ia hanya ikut-ikutan dalam pengakuan kenabian dari apa yang disampaikan orang sebelumnya, bukanlah seorang nabi yang memperoleh wahyu langsung dari Allah.

Ia menanyakan apa ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja, dan dijawab tidak ada. Maka Hiraqla menyimpulkan, kalau memang ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, artinya ia hanya sekedar menuntut kembalinya kerajaan yang pernah dimiliki leluhurnya.

Ia menanyakan apakah sebelum dia (Nabi SAW) mendakwahkan ajarannya, mereka pernah menyebutnya sebagai pembohong, dan dijawabnya tidak, bahkan mereka sangat mempercayainya. Maka Hiraqla menyatakan, kalau ia tidak pernah berdusta sejak masih kecil, maka tidak mungkin ia berdusta kepada Allah SWT (yakni dengan mengaku-ngaku sebagai nabi), sementara ia tidak pernah berdusta sekalipun kepada manusia.

Ia menanyakan tentang para pengikutnya, dan dijawab kalau para pengikutnya kebanyakan dari orang-orang yang lemah. Hiraqla menyatakan bahwa, begitulah keadaan rasul-rasul sebelumnya, para pengikutnya (pada awalnya) kebanyakan dari kalangan orang-orang yang lemah.

Ia menanyakan tentang apakah para pengikutnya makin bertambah atau berkurang, dan dijawab kalau para pengikutnya makin bertambah dari waktu ke waktu. Hiraqla menyatakan bahwa begitulah keadaan rasul-rasul sebelumnya, para pengikutnya makin bertambah saja.

Ia menanyakan apa ada orang yang murtad setelah memeluk agamanya karena rasa benci terhadap agama itu, dan dijawab tidak ada. Maka Hiraqla menyatakan, begitulah memang keadaan iman jika sudah meresap ke dalam hati.

Ia menanyakan apakah ia pernah berkhianat, dan dijawab tidak pernah. Maka Hiraqla menyatakan bahwa begitulah memang para Rasul, mereka sama sekali tidak pernah berkhianat.

Ia menanyakan apa saja yang diperintahkannya, dan dijawab kalau dia (Nabi Muhammad SAW) memerintahkan untuk menyembah Allah Yang Esa semata, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Meninggalkan agama yang diajarkan nenek moyang kami, mengerjakan shalat, bershadaqah, berkata benar, menghindarkan diri dari larangan Allah, menjaga kehormatan diri dan melangsungkan silaturahmi. Maka Hiraqla menyatakan bahwa seperti itulah yang memang diperintahkan oleh rasul-rasul sebelumnya.

Sejenak berhenti berbicara, kemudian Hiraqla berkata lagi, “Kalau benar yang engkau katakan itu, maka pastilah dia (Rasulullah SAW atau ummat Islam) akan menguasai bumi yang kupijak ini (yakni kerajaan Romawi). Aku sebenarnya tahu akan datang seorang rasul seperti dia, hanya saja aku tidak menyangka ia berasal dari kalangan kalian. Jika saja aku telah tahu sebelumnya bahwa aku akan sampai kepada masanya (diutus sebagai rasul) dan mempunyai kebebasan, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Dan jika telah ada di sisinya, maka aku akan membasuh kedua telapak kakinya."

Entah sadar atau tidak mengatakan seperti itu, tetapi sepertinya Hiraqla dituntun oleh akal sehat dan naluri ke-ulama-annya, termasuk hati nuraninya, sehingga ia berkata seperti itu, dan dalam sejenak ia terlupa akan kedudukan dirinya sebagai seorang kaisar (raja besar) di wilayah barat. Ia meminta surat Nabi SAW itu dari wazirnya dan membacanya sendiri, sehingga tergambar keharuan di wajahnya.

Sementara itu, setelah mendengar penuturannya sebagian besar pembesar Romawi mendengus tidak senang, dan terjadi kegaduhan luar biasa. Hiraqla segera menyadari apa yang terjadi, dan memerintahkan mereka semua keluar dari majelis pertemuan itu. Abu Sufyan tampak sangat terkesan dengan peristiwa itu dan berkata kepada teman-temannya, “Sungguh besar sekali urusan Abu Kabsyah (yakni, Nabi SAW), sehingga raja bangsa kulit kuning (Bani ash Ashfar) ini takut kepadanya!!”

Majelis dibubarkan, tetapi masih tersisa cercah-cercah kebenaran yang menyentuh hati Hiraqla, tetapi di sisi lain, ia belum siap untuk kehilangan kekuasaannya sebagai Kaisar Romawi. Tetapi secara Hiraqla menyimpulkan kalau Nabi SAW adalah nabi dan raja umat ini. Kemudian Hiraqla memerintahkan orang kepercayaannya untuk memanggil Dihyah al Kalbi dan juga menyusul Uskup yang biasa menjadi rujukan dalam urusan agama mereka. Uskup ini bernama Ibnu Nathur, ia juga penguasa kota Iliya sekaligus sahabat Hiraqla.

Ketika uskup diberitahu tentang surat Nabi SAW tersebut dan tentang apa yang diserunya, juga hasil pembicaraannya dengan Abu Sufyan, sang uskup langsung membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya ia berkata, "Ia adalah Rasul yang kita tunggu-tunggu dan Isa bin Maryam memberikan kabar gembira kepada kita tentang dirinya. Aku membenarkan dan mengikutinya."

Ibnu Nathur berpaling kepada Dihyah dan berkata, “Demi Allah, sahabatmu itu adalah seorang Nabi yang diutus (sebagai nabi penutup akhir zaman, sebagai disitir dalam Injil dan Taurat), kami mengetahui tentang dirinya, dari sifat-sifatnya dan namanya!!”

Mendengar penjelasan sahabatnya, uskup Ibnu Nathur, Hiraqla hanya tercenung. Ia tidak memungkiri kebenaran yang dikatakan Ibnu Nathur, hanya saja dalam kedudukannya sebagai Kaisar dari sebuah imperium besar seperti Romawi, pertimbangannya jadi begitu panjang dan bertele-tele. Bagaimanapun berat rasanya untuk meninggalkan kedudukannya yang begitu tinggi sebagai kaisar, dan berpaling memeluk Islam.

Setelah Ibnu Nathur dan Dihyah meninggalkannya, Hiraqla memanggil seorang Arab beragama Nashrani dari kabilah Tujib, untuk mencari seseorang yang fasih berbahasa Arab dan mampu menghafal kisah. Ia ingin memperoleh lebih banyak bukti kebenaran dari orang yang mengaku sebagai nabi itu (yakni Nabi SAW). Didatangkanlah seorang lelaki dari kabilah Tanukhi, yang memiliki kualifikasi seperti yang diinginkan Hiraqla. Ia ditugaskan untuk menyampaikan surat balasan bagi Nabi SAW, dan Hiraqla berkata kepadanya, "Pergilah kamu kepada lelaki itu dengan membawa suratku ini. Dari semua yang kau lihat dan dengar, hafalkanlah darinya tiga perkara : Perhatikanlah, apakah ia mengingat tentang surat yang ia tulis padaku? Perhatikanlah, setelah membaca suratku, apakah ia menyebut tentang waktu malam? Perhatikanlah, pada punggungnya, apakah terdapat tanda kenabian yang dapat kamu saksikan langsung (sebagaimana tercantum dalam injil)?"

Lelaki dari Kabilah Tanukhi ini berangkat bersama Dihyah al Kalbi menemui Rasulullah SAW. Sesampainya di hadapan beliau, ia menyerahkan surat Hiraqla tersebut dan memperhatikan dengan seksama segala apa yang terjadi dan akan diucapkan Rasulullah SAW, sebagaimana dipesankan oleh Hiraqla. Nabi SAW bertanya tentang asal kabilahnya. Ketika dijawab dari kabilah Tanukhi, beliau bertanya lagi, "Apakah engkau masih memeluk agama al hanifiyyah, yaitu agama nenek moyang kalian, Ibrahim?"

Lelaki Tanukhi itu berkata diplomatis, "Sesungguhnya aku adalah utusan dari suatu kaum, dan aku berada di atas agama kaum tersebut. Aku tidak akan meninggalkan agama itu hingga aku kembali kepada mereka."

Nabi SAW tersenyum mendengar jawabannya, dan bersabda lagi, "Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih tahu siapakah yang mendapat petunjuk. Wahai Saudara dari Tanukh, Sesungguhnya aku telah menulis surat kepada Kisra, Raja Persia, tetapi ia telah menyobeknya sehingga Allah menyobek tubuhnya dan kerajaannya. Dan aku telah menulis surat kepada rajamu, dan ia tidak menyobeknya, maka rakyatnya akan merasa selalu segan kepadanya, selama masih ada kebaikan dalam kehidupannya."

Lelaki Tanukh ini berkata dalam hati, "Ini adalah hal pertama yang dipesankan oleh Hiraqla."

Ia mengambil anak panah, dan menuliskan pesan tersebut di atas sarung pedangnya. Ia melihat Nabi SAW memberikan surat Hiraqla kepada seseorang di sebelahnya untuk membacakan isinya. Ketika ia bertanya tentang siapa pembaca surat itu, ia mendapat jawaban, Muawiyah.

Muawiyah mulai membaca surat Hiraqla, dan ketika sampai pada suatu kalimat, "…., engkau menyeruku kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, jika demikian dimana letaknya neraka?"

Atas kalimat ini, Nabi SAW bersabda, "Maha Suci Allah, dimanakah perginya malam jika siang menjelma?"

Lelaki Tanukh ini berkata dalam hati, "Ini adalah hal kedua yang dipesankan oleh Hiraqla."

Seperti sebelumnya, ia menuliskan komentar Nabi SAW itu di sarung pedangnya dengan anak panah. Setelah surat itu selesai dibacakan, Nabi SAW bersabda kepadanya, "Engkau adalah seorang utusan, karena itu engkau mempunyai hak. Jika kami masih mempunyai barang, kami akan menghadiahkannya kepadamu, tetapi kami adalah musafir yang sedang kehabisan bekal."

Salah seorang sahabat yang hadir mengatakan kalau akan memberikan hadiah untuk lelaki Tanukh itu. Ia mengeluarkan perbekalannya, dan memberikan satu kain yang berasal dari Shafurriyyah, dan diletakkannya di atas pangkuan lelaki Tanukh. Ketika ditanyakan tentang nama pemilik kain tersebut, seseorang mengatakan, "Utsman".

Lalu Nabi SAW bersabda lagi, "Siapakah yang bersedia memberikan tempat menginap bagi lelaki ini?"

Seorang pemuda dari kalangan Anshar menyanggupinya. Ketika Lelaki Tanukhi tersebut berdiri untuk mengikuti sang pemuda Anshar, Rasulullah SAW memanggilnya kembali dan berkata, "Berdirilah kamu di belakangku sebagaimana kamu telah diperintahkan."

Saat itu Rasulullah SAW membuka sedikit pakaian beliau di bagian punggung, sehingga lelaki Tanukh itu bisa melihat tanda kenabian yang berada di tulang rawan di dekat pundak, yang bentuknya seperti bekas bekam.

Ketika Hiraqla menerima laporan hasil kerja lelaki Tanukhi tersebut, makin mantap saja hatinya menerima kebenaran Nabi SAW sebagai nabi akhir zaman sebagaimana diramalkan oleh Isa al Masih di dalam Injil. Tetapi di sisi lain, ia sama sekali tidak ingin kehilangan jabatan dan kekuasaannya sebagai Kaisar Romawi. Ia berfikir, alangkah baiknya kalau ia memeluk Islam beserta seluruh rakyat Romawi, atau minimal beserta para pembesar dan jenderal-jenderal yang mendukungnya, sehingga ia tetap menjadi seorang kaisar. Mungkin hanya sebuah angan-angan atau mimpi semata, tetapi tidak ada salahnya dicoba.

Hiraqla mengundang seluruh pembesar dan pejabat Romawi, baik kalangan sipil atau militer menghadiri pertemuan penting di istananya di Hims. Setelah semuanya hadir, ia memerintahkan pembantu kepercayaannya untuk mengunci semua pintu keluar. Setelah itu ia berdiri di mimbar dan berkata, “Wahai bangsa Romawi, maukah kalian memperoleh kemenangan dan kemajuan yang gilang-gemilang, sementara kerajaan tetap utuh di tangan kita??”

Dengan serentak mereka menjawab, “Tentu saja!!”

Hiraqla berkata, “Kalau memang menginginkannya, marilah kita mengakui Muhammad sebagai Nabi dan kita semua memeluk Islam…!!”

Mendengar ucapannya itu, langsung mereka kacau balau. Ada yang mendengus marah, mengguman tidak setuju dan lain sebagainya, bahkan banyak yang berlari menuju pintu untuk keluar dari majelis pertemuan itu. Tetapi semua pintu terkunci sehingga keadaan makin kacau, mereka itu layaknya keledai liar. Melihat reaksi yang seperti itu, Hiraqla merasa yakin kalau ia tidak mungkin mempengaruhi mereka untuk memeluk Islam.

Hiraqla seolah berdiri di persimpangan yang sangat sulit dalam keadaan seperti itu. Ia telah mendengar kalau sahabatnya, sang Uskup Ibnu Nathur, telah dibunuh oleh jamaah yang selama ini mendengar nasehat dan pengajarannya karena pilihannya memeluk Islam. Entah bagaimana nasibnya kalau ia juga mengikrarkan dirinya memeluk Islam, apa mungkin mereka masih menghargainya dan menganggapnya sebagai kaisar, atau justru membunuhnya?

Akhirnya ia berteriak keras memerintahkan mereka semua kembali ke tempatnya. Setelah semuanya tenang, ia berkata, “Sesungguhnya aku mengatakan perkataan itu hanya untuk menguji keteguhan hati kalian. Dan kini aku telah mengetahui bagaimana keteguhan kalian!!”

Mendengar perkataannya itu, para pembesar Romawi itu bersujud di hadapan Hiraqla, memuji dan membesarkannya sebagaimana mereka lakukan sebelumnya. Entah bagaimana sebenarnya perasaan Hiraqla, sedih atau gembira? Walau begitu gamblang kebenaran Nabi SAW dalam pengetahuan dan pemahamannya, tetapi ia tidak mampu, atau tidak mau mengikutinya karena egonya takut kehilangan kekuasaan dan ketenaran.

Hidayah memang milik Allah, sejelas dan seterang apapun kebenaran itu tampak, tetapi jika Allah tidak menghendaki memberikan Hidayah-Nya, maka siapapun tidak akan mampu mengikuti jalan kebenaran tersebut. Wallahu A’lam.

karena istiqomah membaca surat al-ikhlas

Ketika Nabi SAW sedang duduk bersama beberapa sahabat di gerbang Kota Madinah, datanglah iring-iringan jenazah yang dibawa beberapa sahabat lainnya mendekati Nabi SAW. Beliau langsung berdiri menyambut dan berkata, “Apakah ia (jenazah itu) memiliki hutang??”

Salah satu dari mereka berkata, “Ya, wahai Rasulullah, empat dirham!!”

Nabi SAW bersabda, “Shalatilah dia, dan aku tidak mau (dilarang) untuk menyalatkan orang yang mempunyai hutang!!”

Tetapi sesaat kemudian datang seseorang tidak dikenal yang menyatakan akan membayar hutang jenazah itu. Ia menyerahkan empat dirham kepada sahabat yang mengiringkan jenazahnya, dan tanpa disadari oleh siapapun, tiba-tiba orang itu menghilang.

Pada saat yang sama dengan lenyapnya lelaki misterius itu, Malaikat Jibril datang pada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu : Aku mengutus Jibril menyerupai manusia dan membayarkan hutangnya!!”

Kemudian Jibril meneruskan perkataannya, “Shalatilah dia karena dia telah diampuni. Dan Allah juga berfirman, bahwa siapapun yang menyalatinya, maka ia akan diampuni!!”

Nabi SAW tampak terharu sekaligus gembira mendengar derajad yang diterima umatnya itu, padahal ia meninggal dengan meninggalkan hutang. Beliau berkata, “Wahai saudaraku Jibril, bagaimana ia mendapatkan kemuliaan yang seperti itu??”

Malaikat Jibril berkata, “Setiap harinya ia selalu membaca (menjadikan wirid dan dzikr) surat Al Ikhlas sebanyak seratus sekali. Sesungguhnya dalam surat tersebut dijelaskan tentang sifat-sifat Allah dan pujian bagi-Nya!!”

subhanallah ......

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

andai memiliki emas sebesar gunung uhud

Pada suatu malam Rasulullah SAW ditemani oleh Abu Dzarr al Ghifari berjalan-jalan menyusuri perkampungan di Madinah, hingga akhirnya sampai di kaki gunung Uhud. Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzarr!!”

“Labbaik, ya Rasulullah!!” Kata Abu Dzarr.

Nabi SAW bersabda, “Seandainya aku mempunyai emas sebesar gunung Uhud ini, aku tidak senang ia (emas-emas itu) menginap di tempatku hingga tiga hari lamanya, walau hanya tersisa satu dinar saja, kecuali sesuatu yang kupersiapkan untuk membayar hutang. Aku baru merasa senang jika emas-emas itu kubagi-bagikan kepada sesama hamba Allah, yang ini untuk tetangga sebelah kiri, yang itu untuk tetangga sebelah kanan, dan yang lainnya untuk tetangga di belakang….!!”

Nabi SAW mengajak Abu Dzarr melanjutan perjalanan, dan beliau melanjutkan pesan beliau, “Sesungguhnya orang yang paling banyak hartanya adalah orang yang paling sedikit pahalanya pada hari kiamat kelak, kecuali orang-orang yang berkata : Ini adalah bagian tetangga sebelah kanan, yang itu untuk tetangga sebelah kiri, dan yang lainnya untuk tetangga di belakang. Tetapi sangat sedikit sekali orang yang seperti itu…”

Mereka berdua terus berjalan menyusuri Gunung Uhud, tiba-tiba Nabi SAW bersabda, “Wahai Abu Dzarr, diamlah engkau di sini, dan jangan ke mana-mana hingga aku datang kembali!!”

Abu Dzarr berkata, “Baiklah, ya Rasulullah!!”

Nabi SAW terus berjalan hingga menghilang di kegelapan malam. Tiba-tiba terdengar suara cukup keras di arah menghilangnya Nabi SAW, Abu Dzarr jadi khawatir kalau-kalau ada orang yang mengganggu beliau. Ia berniat mendatangi tempat suara itu dan mencari penyebabnya, tetapi teringat pesan Nabi SAW, ia membatalkannya. Hanya saja ia dalam penantian dengan dihantui rasa was-was dan khawatir akan keselamatan Nabi SAW.

Beberapa waktu lamanya menunggu, akhirnya Nabi SAW muncul lagi dari balik kegelapan Gunung Uhud, Abu Dzarr berkata, “Wahai Rasulullah, saya tadi mendengar suara yang cukup keras dari tempat engkau menghilang!!”

Nabi SAW bersabda, “Engkau mendengar suara itu??”

“Benar, ya Rasulullah,”

Beliau bersabda lagi, “Itu adalah suara Jibril, ia datang kepadaku dan berkata : Barangsiapa dari umatmu yang meninggal dunia dan ia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka ia masuk surga!!”

Mata Abu Dzarr berbinar-binar gembira mendengar sabda beliau itu, dan berkata, “Wahai Rasulullah, walau ia berzina, walau ia mencuri??”

Nabi SAW bersabda, “Walau ia berzina, walau ia mencuri!!”

Tentunya bagi orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan masuk surga, tetapi dengan berbagai perbedaan. Ada yang langsung masuk surga tanpa hisab dan tanpa mengalami berbagai kesusahan lainnya, ada yang mengalami ‘siksaan’ penantian di padang makhsyar kemudian mendapat syafaat Nabi SAW, dan ada juga yang harus ‘dicuci bersih’ dahulu di neraka, yang lamanya tergantung dengan sedikit banyaknya ‘kotoran’ yang harus dihilangkan. Dan bagi orang-orang yang tidak memiliki sedikitpun amal kebaikan, tetapi ia meninggal tanpa menyekutukan Allah, ia termasuk dalam kelompok orang-orang yang terakhir masuk surga

subhanallah ......

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

jika dibolehkan sujud kepada nabi saw

Seorang sahabat Anshar mempunyai seekor unta yang biasa digunakan untuk membawa air dari sumur untuk menyiram tanaman dan kebunnya. Suatu ketika untanya itu menjadi liar dan mogok bekerja, ia tidak mau melaksanakan pekerjaan seperti biasanya, bahkan melawan jika dipaksa. Sahabat tersebut melaporkan peristiwa ini kepada Nabi SAW, dan beliau mendatangi kebunnya diikuti beberapa sahabat lainnya.

Ketika Nabi SAW akan memasuki pintu kebunnya, sang sahabat Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, saya khawatir akan keselamatan dirimu. Sesungguhnya unta itu telah menjadi liar dan ganas!!”

“Tidak apa-apa!!” Kata Nabi SAW

Kemudian beliau masuk dan memandang kepada unta tersebut dengan pandangan kasih sayang. Memang benar Firman Allah : wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin. Seketika unta itu menghampiri Nabi SAW, kemudian menderum (duduk) bersimpuh, bahkan cenderung bersujud di hadapan beliau. Beliau mengusap ubun-ubun unta tersebut, sesaat kemudian beliau memerintahkan berdiri dan menghelanya kepada pemiliknya, sang sahabat Anshar. Tampaknya unta tersebut kembali jinak dan menurut kepada tuannya seperti sebelumnya.

Salah seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, binatang yang tidak berakal saja bersujud kepada engkau. Maka kami yang berakal ini lebih layak untuk bersujud kepadamu!!”

Maka Nabi SAW bersabda, “Tidak layak manusia bersujud kepada sesama manusia. Andai dibolehkan manusia bersujud kepada manusia, maka aku perintahkan seorang istri bersujud pada suaminya, karena besarnya hak suaminya itu atas dirinya!!”

Ada suatu peristiwa lagi, yang juga menunjukkan mu’jizat Rasulullah SAW. Seorang badui (Arab pedalaman) yang telah memeluk Islam, menghadap Nabi SAW di Madinah dan berkata, “Sesungguhnya aku telah memeluk Islam, maka tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang bisa menambah keyakinanku!!”

Beliau bersabda, “Apa yang engkau inginkan??”

Si Badui berkata, “Panggillah pohon itu untuk datang kepadamu!!”

Tetapi Nabi SAW justru berkata, “Pergilah kamu ke sana dan panggillah pohon itu!!”

Si Badui mendekati pohon itu dan berkata, “Penuhilah panggilan Rasulullah!!”

Dan sungguh ajaib, tiba-tiba pohon itu miring ke satu sisi hingga akarnya terangkat, dan miring lagi ke sisi lainnya hingga akar lainnya tercerabut, bergerak maju mundur hingga semua akarnya keluar, kemudian ‘berjalan’ mendekati Rasulullah SAW dan mengucap salam.

Si Badui yang tampak terkagum-kagum melihat peristiwa itu segera berkata, “Cukup… cukup!!”

Nabi SAW memerintahkan pohon itu kembali dan ia ‘berjalan’ seperti sebelumnya, masuk ke lubang tempatnya semula hingga akar-akarnya menancap, dan kembali tegak seperti tidak pernah berpindah. Si Badui memandang Nabi SAW dengan mata berbinar, dan berkata, “Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku untuk mencium kepala dan kedua kakimu!!”

Nabi SAW mengijinkannya, dan si Badui segera melakukannya. Sikap seperti itu adalah tradisi orang-orang Arab ketika mereka menghormat dan menyanjung seseorang. Si Badui tampak masih saja ‘terpesona’ dengan Nabi SAW, sikap penghargaan yang dilakukannya, yang umum dilakukan oleh masyarakat Arab, tampaknya belum cukup baginya untuk memuliakan Nabi SAW. Masih dengan pandangan berbinar, ia berkata, “Wahai Rasulullah, ijinkanlah saya bersujud kepadamu!!”

Tentu maksud dari si Badui bukan untuk ‘menuhankan’ Nabi SAW karena ia telah cukup lama memeluk Islam dan menjalankan ibadah sesuai yang disyariatkan. Pengertian kalimat ‘Laa ilaha illallaah’ telah cukup merasuk ke dalam hatinya. Hanya saja ketika langsung bertemu dan ditunjukkan mu’jizat beliau, timbul ‘ghirah’ (rasa cinta yang begitu mendalam)-nya, sehingga penghargaan ‘standar’ itu belum cukup baginya untuk mengungkapkan luapan perasaannya dalam memuliakan Rasulullah SAW. Bukan sujud ibadah yang dimaksudkannya, tetapi sujud penghargaan seperti yang diperintahkan Allah kepada malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam AS.

Nabi SAW bersabda, “Janganlah engkau bersujud kepadaku, seseorang itu tidak boleh bersujud kepada mahluk lainnya. Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, maka aku perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya sebagai penghormatan bagi hak seorang suami….!!”

subhanallah ..........

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

istiqomah shalawat yg mnyelamatkan kaum dari kedzaliman

Di masa Nabi SAW, ada seorang Yahudi yang menuduh seorang muslim mencuri unta, yang sebenarnya unta itu adalah miliknya sendiri. Untuk memperkuat tuduhan itu, Si Yahudi ‘menyewa’ empat orang muslim lainnya untuk membenarkan ‘klaimnya’ bahwa unta itu adalah miliknya. Empat orang muslim yang dibayar tersebut memang termasuk dari kalangan kaum munafik, lahiriahnya saja beragama Islam, tetapi jiwanya sangat memusuhi Islam, atau keislaman itu dipergunakannya hanya untuk memperoleh keuntungan duniawiah semata-mata.

            Ketika Nabi SAW memperoleh laporan Si Yahudi, berikut empat orang saksi palsunya, beliau memerintahkan mendatangkan lelaki muslim pemilik unta yang diklaim tersebut, termasuk unta yang disengketakan itu. Setelah ia datang, beliau bersabda, “Orang Yahudi ini telah menuduh engkau mencuri untanya, dan ia membawa empat orang saksi ini. Jika engkau memang tidak mencuri, atau unta ini memang milikmu, tunjukkanlah buktinya, atau datangkanlah empat orang saksi sebagai hujjahmu!!”

Si Muslim itu dengan kebingungan berkata, “Wahai Rasulullah, unta ini memang milik saya, tetapi saya tidak tahu bagaimana saya harus membuktikannya, atau bagaimana bisa saya mendatangkan empat saksi untuk memperkuat kepemilikan saya!!”

Mendengar jawaban tersebut, Nabi SAW bersabda, “Kalau demikian halnya, tuduhan orang Yahudi itu benar, unta itu miliknya dan engkau akan dijatuhi hukum qishash, yakni dipotong salah satu tanganmu!!”

Memang, dalam memutuskan hal-hal yang bersifat hukum atau fiqiyah, Nabi SAW hanya akan melihat dan menilai bukti dan saksi-saksi dengan pengakuan lahiriahnya semata, dalam hal bathiniahnya (kebenaran atau kepalsuan bukti dan saksi yang ditunjukkan), beliau menyerahkan urusannya kepada Allah. Kecuali jika ada pemberitahuan khusus dari Allah melalui malaikat Jibril atau dari jalan lainnya, barulah beliau memutuskan berbeda dengan bukti dan saksi yang ditunjukkan. Dalam kasus di atas, beliau memang tidak memperoleh pemberitahuan dari Malaikat Jibril, karena itu beliau ‘memenangkan’ kasus tersebut pada si Yahudi.

Tampak orang Yahudi beserta empat orang saksi palsunya tertawa gembira, sedang si Muslim makin tenggelam dalam kesedihan dan kebingungan. Keputusan Nabi SAW telah ditetapkan, jika ia menolak sama artinya telah ingkar kepada beliau, dan jatuhlah ia dalam kekafiran. Tetapi ia yakin tengah didzalimi oleh orang Yahudi itu, hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus membela diri. Dalam keadaan buntu seperti itu, si Muslim berdoa, “Ya Allah, hanya Engkau tempat aku mengadu, dan hanya Engkau yang mengetahui bahwa aku tidak mencuri unta ini!!”

Sesaat dalam keadaan tercenung, seolah-olah mendapat ilham, si Muslim menghadap Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, keputusan engkau adalah benar, dan saya tidak akan pernah berani menentangnya. Tetapi dalam hal ini, tolonglah engkau tanyakan kepada unta ini mengenai saya!!”

Nabi SAW memenuhi permintaan si Muslim itu, apalagi beliau mendengar sendiri doa yang dipanjatkannya kepada Allah. Setelah menghadapkan diri kepada unta yang digugat tersebut, Nabi SAW bersabda, “Wahai unta, milik siapakah kamu ini??”

Dan sungguh suatu mu’jizat, tiba-tiba sang unta berbicara dengan bahasa manusia dengan fasihnya, “Wahai Rasulullah, saya adalah milik orang muslim ini, orang Yahudi beserta saksi-saksinya adalah bohong dan palsu belaka!!”

Pucatlah wajah orang Yahudi dan empat saksinya dari kalangan munafik tersebut mendengar perkataan sang unta. Segera saja mereka bergegas pergi sebelum sempat Nabi SAW mempertanyakan tuduhannya, tetapi beliau membiarkannya saja. Beliau justru memandang kagum kepada si Muslim itu, dan bersabda, “Wahai Fulan bin Fulan, ceritakanlah kepadaku apa yang engkau kerjakan, sehingga Allah mengijinkan unta ini berbicara tentang dirimu!!”

Si Muslim berkata, “Tidak ada yang istimewa, ya Rasulullah, kecuali saya tidak pernah tidur di malam hari sebelum saya membaca shalawat kepadamu, sepuluh kali!!”

Maksudnya tidak ada yang istimewa, adalah apa yang diamalkannya tidak berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin yang selalu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasulullah SAW. Tetapi lagi-lagi Nabi SAW memandangnya dengan penuh sayang dan bersabda, “Kamu selamat dan terbebas dari hukuman potong tangan di dunia ini, dan kelak engkau akan selamat dari azab akhirat berkat bacaan shalawatmu kepadaku itu!!”

Hati si Muslim berbunga-bunga, walau baru saja ia didzalimi, sedikitpun tidak terpikir ia akan menuntut balik kepada si Yahudi dan empat orang muslim (tetapi munafik) tersebut, dengan dalih pencemaran nama baik ataupun kesaksian palsu. ‘Pembenaran’ Rasulullah SAW atas ‘ijtihadnya’ membaca shalawat sepuluh kali sebelum tidur, dan juga ‘jaminan’ beliau bahwa ia akan selamat dari azab akhirat berkat amalannya tersebut, merupakan berkah yang sangat besar, sehingga menghapuskan ‘rasa terdzaliminya’ tersebut.

Amalannya tersebut tidak sepenuhnya merupakan amalan baru (bid’ah) yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW. Pada dasarnya beliau menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak membaca shalawat kepada beliau, termasuk sebelum tidur tersebut. Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW pernah menganjurkan empat hal kepada istri beliau, Aisyah RA, sebelum ia berangkat tidur. Pertama adalah mengkhatamkan Al Qur’an, kedua adalah memastikan bahwa ia akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW pada yaumul makhsyar atau kiamat kelak, ketiga adalah memastikan bahwa seluruh kaum muslimin (di seluruh dunia) menjadi ridha atas dirinya, dan yang ke empat, ia melaksanakan haji dan umrah.

Tentu saja Aisyah terheran-heran, sekaligus kebingungan bagaimana merealisasikan anjuran Nabi SAW tersebut, satu saja hampir tidak mungkin, apalagi keempat-empatnya. Nabi SAW tersenyum melihat keadaan istri kesayangan beliau tersebut, kemudian bersabda, “Bahwa engkau mengkhatamkan Al Qur’an sebelum tidur, cukuplah engkau membaca surat Al Ikhlas sebanyak tiga kali….!!”

Beliau menjelaskan lebih lanjut tentang amalan sebelum berangkat tidur tersebut, dengan membaca shalawat sebanyak sepuluh kali, maka ia akan memperoleh syafaat Rasulullah SAW pada yaumul makhsyar atau hari kiamat kelak.

Dengan membaca istighfar, atau mendoakan ampunan untuk diri sendiri, orang tua dan seluruh kaum muslimin, sebanyak tujuh kali, sama artinya ia telah memperoleh keridhaan dari seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Redaksi sederhana bisa seperti ini : Astaghfirullah al azhiim, wa liwaalidayya, wa lil mu’miniina wal mu’minaat, al akhyaa-i minhum wal amwaat. Atau bisa memakai redaksi doanya Nabi Ibrahim AS sebagaimana tercantum dalam QS Ibrahiim ayat 41, atau beberapa redaksi lainnya.

Dan untuk melaksanakan haji dan umrah, maka dengan membaca serangkaian kalimat thayyibah sebanyak tujuh kali, maka sama artinya ia memperoleh pahala seperti orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah. Rangkaian kalimat Thayyibah adalah : Subkhaanallaah wal khamdulillaah wa laa ilaaha illallaah allaahu akbar laa khaula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.

subhanallah ........

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

hak allah memberikan hidayah

Sosok dan kepribadian Rasulullah SAW sangatlah menarik dan mampu menundukkan kekerasan hati seseorang, tetapi beliau tetaplah manusia biasa yang tidak bisa ‘memberi’ hidayah kepada seseorang agar beriman dan memeluk Islam. Sebaik dan sebanyak apapun pengenalan seseorang kepada Nabi SAW, belum tentu ia memperoleh karunia dan hidayah keimanan, sebagaimana yang terjadi pada Abu Thalib bin Abdul Muthalib, paman beliau sendiri.

Pada masa-masa awal Nabi SAW mendakwahkan Islam di Makkah, secara manusiawi dan emosional beliau mempunyai dua ‘sandaran’ yang kokoh, yaitu Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Karena itu ketika istri dan paman beliau itu wafat, beliau sangat bersedih dan merasa amat kehilangan, dan tahun tersebut dikenal dalam tarikh Islam sebagai Tahun Duka Cita (Amul Huzni). Terlebih lagi, Abu Thalib yang begitu kokoh dan tegar membela Nabi SAW dari gangguan dan siksaan kaum kafir Quraisy meninggal dalam kekafiran, dalam agama jahiliahnya.

Ketika Abu Thalib dalam sakit yang membawanya kepada kematian, Rasulullah SAW datang menjenguknya, tetapi di rumah tersebut telah ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah, dua orang tokoh Quraisy mendahului beliau. Beliau berkata kepada Abu Thalib, “Wahai paman, ucapkanlah : Laa ilaaha illallaah, yaitu suatu kalimat yang aku akan menjadi saksi untukmu di sisi Allah!!”

Tetapi seketika itu Abu Jahal dan Abdullah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agama ayahmu, Abdul Muthalib??”

Nabi SAW berkata lagi, “Wahai paman, ucapkanlah : Laa ilaaha illallaah!!”

Lagi-lagi kedua orang itu mengulang-ulang ucapannya, Nabi SAW-pun tidak berhenti mempengaruhi untuk mengucapkan satu kalimat pendek itu, tetapi akhirnya Abu Thalib berkata, “Aku tetap dalam agama Abdul Muthalib!!”

Nabi SAW amat bersedih mendengar perkataannya tersebut, apalagi sesaat kemudian Abu Thalib meninggal dunia. Di tengah kesedihannya, Nabi SAW berkata, “Demi Allah aku akan selalu memohonkan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang untuk itu!!”

Tetapi beliau tidak lagi mendoakan ampunan untuk Abu Thalib ketika turun firman Allah, QS At Taubah ayat 113, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.”

Dalam kisah lainnya, ketika Nabi SAW telah tinggal di Madinah, banyak sekali orang yang mengabdikan diri untuk melayani beliau, termasuk anak-anak dan remaja seperti Anas bin Malik dan Rabiah bin Ka’b al Aslamy. Ada juga seorang anak dari kaum Yahudi yang menjadi pelayan Nabi SAW karena rasa ketertarikannya kepada kepribadian beliau.

Suatu ketika anak Yahudi itu sakit, maka Nabi SAW menjenguk dirinya. Beliau berdiri di sisi kepalanya dan bersabda, “Masuk Islamlah!!”

Anak Yahudi itu menoleh kepada ayahnya yang berada di sisinya. Sang ayah terdiam beberapa saat lamanya, kemudian berkata, “Taatilah Abul Qasim!!”

Abul Qasim adalah nama kuniah Nabi SAW. Anak Yahudi itu mengucap dua kalimah syahadat di hadapan Nabi SAW dan ayahnya untuk menyatakan keislamannya. Ketika Nabi SAW keluar dari rumah itu, beliau bersabda, “Alhamdu lillaahil ladzii anqadzahu minan naar!!”

Maksudnya adalah : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dirinya dari neraka.

subhanallah .......

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

berkah istiqomah membaca shawalat

Dalam menjalankan ibadah haji, Nabi SAW telah mengajarkan banyak sekali doa-doa yang dibaca pada saat dan tempat tertentu. Ketika melihat Ka’bah, memakai pakaian Ihram, Thawaf, Sa’i, atau ketika berada di tempat-tempat tertentu seperti Multazam, di padang Arafah, di Mina dan berbagai tempat dan aktivitas lainnya ketika berhaji, Nabi SAW telah mengajarkan doa khusus walau sifatnya hanyalah sunnah.

Di suatu musim haji, ada seorang lelaki yang hanya mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika berada di tempat-tempat mustajabah. Hal itu sempat menimbulkan berbagai dugaan dan tanda tanya pada orang-orang di sekitarnya, padahal tampaknya ia bukan orang yang awam dalam hal ilmu agama. Akhirnya ada seseorang yang memberanikan diri bertanya, “Mengapa engkau tidak membaca doa-doa ma’tsur yang diajarkan Nabi SAW pada tempat-tempat tertentu?”

Lelaki itu minta maaf kalau aktivitasnya membaca shalawat itu mengganggu mereka, kemudian ia menceritakan pengalamannya beberapa tahun yang lalu. Saat itu ia berangkat haji bersama ayahnya, tetapi ketika sampai di Bashrah di suatu malam, ayahnya itu meninggal dunia. Ia sangat sedih karenanya, tetapi yang lebih menyedihkan lagi, wajah ayahnya itu ternyata berubah seperti wajah himar (keledai).

Dengan kesedihan yang begitu mendalam sehingga mempengaruhi keadaan jiwanya, ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya itu ia bermimpi melihat kehadiran Nabi SAW, ia segera memegang tangan beliau dan menceritakan ayahnya yang meninggal dalam keadaan begitu memprihatinkan. Padahal mereka dalam niat dan perjalanan kepada kebaikan, yakni beribadah haji. Nabi SAW bersabda, “Ayahmu itu makan riba, sedang pemakan riba keadaannya memang seperti itu ketika meninggal. Namun demikian ayahmu mempunyai amalan istiqomah membaca shalawat kepadaku seratus kali setiap malamnya. Karena itu, ketika malaikat memberitahukan keadaan ayahmu kepadaku, aku meminta ijin kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada ayahmu dan Allah mengijinkannya…!!” 

Setelah itu ia terbangun dari mimpinya, dan ia melihat wajah ayahnya kembali seperti semula, bahkan kali ini tampak sangat cemerlang seperti bulan purnama. Keesokan harinya ia memakamkan jenazah ayahnya, dan terdengar hathif (suara tanpa wujud), “Keselamatan ayahmu karena ia suka dan sering membacakan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW!!”

Lelaki itu menutup ceritanya dengan berkata kepada jamaah haji yang mengitarinya, “Sejak saat itulah aku bersumpah kepada diriku sendiri, tidak akan meninggalkan shalawat kepada Nabi SAW, dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun aku berada!!”

Idealnya, jika kita mempunyai suatu dosa atau kesalahan, hendaknya kita bertaubat sebelum kematian menjemput kita. Hanya saja memang Allah mempunyai ‘wewenang’ untuk mengampuni suatu dosa walau ia belum bertaubat sampai ia meninggal, asal bukan dosa menyekutukan Allah (dosa syirik) atau menjadi murtad/musyrik. Amalan-amalan tertentu yang dilakukan secara ikhlas, walau terkadang tampak remeh dan tidak berarti, bisa jadi ‘memancing’ kasih sayang Allah untuk mengampuni dosa-dosanya, termasuk shalawat Nabi SAW.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, karena shalawatmu kepadaku itu (bisa) menyebabkan pengampunan dosa-dosamu. Dan bermohonlah kepada Allah derajad washilah untukku, karena sesungguhnya derajad washilahku di sisi Tuhan akan menjadi syafaat untukmu!!”
subhanallah .........

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

berjihad tapi masuk neraka

Perang Uhud yang terjadi pada tahun 3 Hijriah memunculkan beberapa peristiwa dramatis, heroik, sekaligus kontroversial. Sejak sebelum pecahnya peperangan, dari seribu prajurit yang dibawa Nabi SAW, tigaratus orang ternyata membelot dan kembali ke Madinah setelah melihat besarnya kekuatan pasukan kaum kafir Quraisy. Mereka itu memang dari golongan kaum munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay. Terancamnya jiwa Rasulullah SAW dalam perang tersebut, bahkan dikabarkan beliau terbunuh, jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib yang dirusak, sahabat yang ‘dimandikan’ malaikat, sahabat yang syahid dan masuk surga padahal belum pernah shalat, tetapi ada juga mujahid yang berjuang dengan gagah perkasa tetapi akhirnya masuk neraka. Peristiwa terakhir ini yang akan diungkap dalam kisah ini.

Ketika Islam mulai didakwahkan di Yatsrib (nama Kota Madinah sebelum Islam) oleh utusan Nabi SAW, sahabat Mush’ab bin Umair, sambutan masyarakatnya sungguh luar biasa untuk memeluk Islam, apalagi ketika Rasulullah SAW telah berhijrah ke sana. Islam yang ‘tiba-tiba’ menjadi agama mayoritas dan memiliki kekuatan ’militer’ karena bersatunya Suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya selalu terlibat perang saudara, membuat sebagian orang juga ikut-ikutan memeluk Islam walau motivasinya tidak benar-benar mencintai Islam dan mengharap ridho Allah. Termasuk di antaranya adalah kaum munafik, yang kemudian mengelompok sendiri dengan pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul.

Seorang lelaki dari kabilah Bani Zhafr bernama Quzman adalah seorang yang sangat mencintai kaumnya. Ketika sebagian besar dari mereka memeluk Islam sebagaimana mayoritas masyarakat Madinah, ia juga ikut memeluk Islam karena tidak ingin sendirian dengan agama jahiliahnya. Tetapi tidak ada penjelasan/riwayat bahwa ia termasuk dalam kelompok kaum munafik. Ketika terjadi perang Uhud, ia juga menerjunkan diri melawan pasukan kafir Quraisy dalam golongan kaum Anshar. Ia berjuang dengan perkasanya sehingga mengundang decak kagum kaum muslimin lainnya. Tidak kurang dari delapan orang musyrik yang tewas di tangannya, belum lagi yang luka dan tertawan.

Ketika peperangan usai, ia dalam keadaan luka parah dan merasa sangat kesakitan. Kerabat dan saudaranya dari Bani Zhafr membawanya pulang dan menghiburnya, memintanya untuk bersabar. Mereka memuji kepahlawanannya dan mendoakannya akan mendapat surga yang tertinggi. Tetapi di luar dugaan, tiba-tiba Quzman berkata, “Demi Allah, aku ikut berperang semata-mata karena pertimbangan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tidak akan sudi untuk berperang!!”

Kaum muslimin di sekitarnya, yang kebanyakan masih saudara-saudaranya itu menjadi sedih mendengarnya. Mereka merayunya untuk bertobat dan memohon ampunan kepada Allah, tetapi Quzman tidak bergeming. Bahkan karena ia tidak kuat dan tidak sabar menahan penderitaan dari luka-lukanya, ia bunuh diri. Ketika Nabi SAW diberitahu tentang keadaan Quzman tersebut, beliau bersabda, “Jika dia berkata (dan berbuat) seperti itu, maka ia termasuk penghuni (akan masuk) neraka!!”

Masih dalam perang Uhud itu juga, seorang lelaki Yahudi dari Bani Tsa’labah bernama Mukhairiq berkata kepada kaumnya, “Wahai semua orang Yahudi, demi Allah, kalian tahu bahwa membantu Muhammad saat ini adalah kewajiban kalian!!”

Memang, ketika Nabi SAW telah hijrah ke Madinah, beliau menyusun suatu sistim kemasyarakatan baru dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Beliau juga menyusun suatu perjanjian dengan masyarakat non muslim lainnya di Kota Madinah, termasuk kaum Yahudi yang dikenal dengan nama “Piagam Madinah”. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah kesepakatan untuk saling membela dan membantu jika salah satu pihak diserang oleh musuhnya.

Mendengar penuturan Mukhairiq tersebut, mereka berkata, “Bukankah hari ini hari sabtu?”

Hari sabtu memang hari besar bagi kaum Yahudi, mereka tidak diperbolehkan melakukan  kegiatan apapun, termasuk bekerja, kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah. Kalau bekerja saja terlarang, apalagi untuk berperang. Tetapi Mukhairiq seolah-olah ingin mengingkari ajaran agamanya sendiri, dan lebih ‘mematuhi’ perjanjian yang disetujuinya dengan Nabi SAW. Ia berkata  “Tidak ada hari sabtu untuk kalian!!”

Kemudian ia mengambil kuda dan perlengkapan perangnya, dan berkata kepada kaumnya, “Kalaupun aku mendapat celaka, aku sama sekali tidak perduli dengan (pandangan dan sikap)  Muhammad, biarkan saja ia berbuat semaunya dalam peperangan itu!!”

Mungkin maksudnya, ia tidak punya pamrih apapun (dari Nabi SAW) dengan terjun dalam perang Uhud tersebut, kecuali hanya ingin memenuhi perjanjiannya. Ia memacu kudanya dengan cepat ke Uhud dan langsung menerjunkan diri dalam pertempuran di pihak kaum muslimin. Ia berperang dengan perkasanya menerjang kaum musyrikin Makkah, dan akhirnya gugur dalam peperangan tersebut.

Ketika Nabi SAW diberitahu tentang tindakan Mukhairiq tersebut, beliau bersabda, “Mukhairiq adalah sebaik-baiknya orang Yahudi!!”

Walau Nabi SAW memujinya, tetapi beliau menyatakan ia tetap dalam agama Yahudi. Dan secara aqidah, di akhirat nanti tentu tidak ada bagian bagi dirinya kecuali dalam neraka, walau ia gugur di dalam membela Islam. Wallahu A’lam.

Peristiwa yang hampir serupa terjadi pada Perang Hunain, yang terjadi setelah Penaklukan Kota Makkah (Fathul Makkah). Memang, setelah Makkah jatuh ke tangan kaum Muslimin, banyak sekali orang yang memeluk Islam, baik dari masyarakat Makkah sendiri, atau dari beberapa kabilah lain yang tinggal di sekitar Kota Makkah. Tentu saja motivasi keislaman dari sekian banyak orang itu berbeda-beda, ada yang benar-benar tulus, tetapi ada juga yang ikut-ikutan saja, atau mencari selamat, atau bahkan mencari keuntungan ‘duniawiah’ dengan islamnya tersebut.

Ketika akan berlangsungnya perang Hunain tersebut, tiba-tiba Nabi SAW bersabda tentang seorang lelaki muslim yang ikut berjuang di peperangan tersebut, “Orang itu termasuk ahli neraka (akan masuk neraka)!!”

Pertempuran berkecamuk dengan hebatnya, pasukan muslim sempat terdesak, tetapi lelaki tersebut tetap berjuang dengan perkasa tanpa sedikitpun rasa takut. Walau luka-luka di tubuhnya makin banyak, ia terus saja menerjang barisan musuh tanpa gentar. Ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, lelaki yang engkau katakan sebagai ahli neraka itu berjuang fisabilillah dengan mati-matian hingga ia terluka parah!!”

Tetapi sekali lagi Nabi SAW bersabda, “Ia akan masuk neraka!!”

Hampir saja para sahabat ragu dengan pernyataan Rasulullah SAW tersebut. Ketika perang usai dan kemenangan berada di tangan kaum muslimin, lelaki itu dalam keadaan luka parah. Karena begitu banyak luka-luka yang dialaminya, ia merasakan sakit yang tidak terkira. Mungkin ketika sibuk berperang, ia tidak merasakan sakitnya itu. Karena tidak tahan dan tidak mampu bersabar dengan rasa sakitnya itu, ia bunuh diri. Ia menancapkan gagang pedangnya di tanah, dan menempatkan ujung pedang di dadanya, kemudian menjatuhkan diri sehingga tembus dan ia mati seketika.

Para sahabat mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh benar apa yang engkau katakan. Lelaki itu bunuh diri karena tidak mampu menahan rasa sakitnya!!”

Sebagian riwayat menyebutkan, ketika Nabi SAW menyebutkan bahwa lelaki itu adalah penghuni neraka, ada seseorang yang belum memeluk Islam ingin membuktikannya. Ia mengamati dan mengikuti lelaki itu kemanapun lelaki itu bergerak. Seperti kebanyakan sahabat lainnya, ia juga sempat ragu dan bahkan ‘menertawakan’ pendapat Nabi SAW, apalagi ketika pasukan muslim memperoleh kemenangan. Tetapi ketika lelaki itu ternyata bunuh diri, ia segera menghadap Nabi SAW dan berkata, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah!!”

Kemudian ia membaca syahadat menyatakan diri memeluk Islam. Nabi SAW berkata, “Apakah yang terjadi??”

Lelaki itu menceritakan apa yang dilakukannya, dan beliau menanggapinya dengan gembira. Kemudian Nabi SAW memanggil Bilal dan berkata, “Wahai Bilal, bangkitlah dan umumkan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang benar-benar beriman. Dan ada kalanya Allah membela agama (Islam) ini dengan seorang lelaki yang faajir!!”

Faajir adalah kebalikan dari takwa, yang bisa dimaknakan sebagai kefasikan (tetap muslim tetapi durhaka), atau bisa juga ditafsirkan sebagai kekafiran yang akan kekal di neraka. Hal ini tercantum dalam surat asy Syam ayat 8 : Fa-alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa, yang artinya : Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
subhanallah.......

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

"sedih" kisah rasulullah menjelang wafat

Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratulmaut.'
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku".Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca,Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam,"kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,"Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang."Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,"kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini." Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah."Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,"kata Jibril.Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan."Engkau tidak senang mendengar khabar ini?"Tanya Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?""Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,"kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Perlahan Rasulullah mengaduh.Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,"kata Jibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi."Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!"-"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. bahkan sebelum wafatnya saja masih menghawatirkan umatnya dan meminta kepada allah agar semua rasa sakit maut umatnya dilimpahkan kepada beliau,,,, subhanallah sungguh mulia sifat rasulullah, betapa sayangnya beliau kepada kita umatnya

untuk itu tak Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia,tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.

sumber artikel by :
https://m2.facebook.com/notes/salam-satu-jari-one-finger-underground-movement-/kisah-nabi-muhammad-saw-menjelang-ajal-sedih-nangis-bacanya/146107712086475?_e_pi_=7%2cPAGE_ID10%2C1916234137

beberapa tanda akan wafatnya rasulullah saw

Telah menjadi kebiasaan Nabi SAW, pada setiap bulan Ramadhan beliau akan selalu memperbanyak amal-amal ibadah. Bahkan pada sepuluh hari terakhir, beliau tidak ‘mengunjungi’ (menggilir) sembilan orang istri-istri beliau, tetapi menghabiskan waktu dengan i’tikaf di masjid. Di saat seperti itu biasanya malaikat Jibril ‘menemani’ beliau melakukan tadarus Al Qur’an, sekaligus menata ulang lagi urutan-urutan Al Qur’an setelah ada ‘penambahan’ wahyu-wahyu yang turun dalam tahun yang bersangkutan.

Pada bulan Ramadhan tahun 10 hijriah, ternyata Nabi SAW lebih awal dan lebih lama melaksanakan i’tikaf di masjid, yakni selama duapuluh hari. Malaikat Jibril juga lebih sering datang dan menemani beliau tadarus Al Qur’an. Kalau pada ramadhan-ramadhan sebelumnya Jibril hanya sekali saja ‘mengetes’ hafalan Al Qur’an Nabi SAW, kali ini sampai dua kali. Seolah-olah mereka telah mengetahui bahwa saat itu adalah kesempatan terakhir untuk mengisi indahnya waktu ramadhan di bumi dengan membaca Al Qur’an, dan saat terakhir juga untuk menetapkan urutan-urutan Al Qur’an, walau mungkin masih ada beberapa ayat atau wahyu lagi yang akan turun.

Pada saat terjadinya Penaklukan Kota Makkah (Fathul Makkah) yang terjadi pada tahun 8 hijriah, pasukan muslim hanya berjumlah sekitar sepuluh ribu orang. Setelah itu berbagai kabilah di Jazirah Arabia berduyun-duyun memeluk Islam. Pada tahun 10 hijriah Nabi SAW mengumumkan akan melakukan ibadah haji (yakni Haji Wada’), maka hampir seluruh umat Islam bermaksud untuk mengikuti perjalanan haji beliau. Tidak kurang dari 124.000 orang, atau dalam riwayat lain 144.000 orang yang mengikuti ibadah haji tersebut, dan sebagian besarnya berkumpul dahulu di Madinah. Hanya dalam dua tahun, ternyata Islam mengalami perkembangan yang sungguh luar biasa, bertambah hingga duabelas atau empatbelas kalinya.

Nabi SAW dan rombongan besar beliau itu meninggalkan Madinah, empat atau lima hari sebelum berakhirnya Bulan Dzulqa’idah tahun 10 H, dan setelah sekitar delapan hari perjalanan, mereka sampai di Makkah pada tanggal 4 Dzulhijjah 10 H. Saat wuquf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, beliau minta didatangkan unta beliau Al Qashwa, dan beliau menungganginya hingga di tengah padang Arafah. Dari tempat itu beliau memberikan khutbah secara umum kepada umat Islam, yang kemudian dikenal dengan nama ‘Khutbah Arafah’. Yang mengulang dengan suara keras khutbah beliau agar bisa didengar oleh ratusan ribu kaum muslimin itu adalah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf.

Setelah melantunkan pujian dan sanjungan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW membuka khutbah dengan perkataan, “Wahai semua manusia, dengarkanlah perkataanku!! Aku tidak tahu pasti, bisa jadi aku tidak akan bisa bertemu dengan kalian lagi setelah tahun ini, dalam keadaan yang seperti ini….!!”

Kemudian beliau memberikan berbagai macam nasehat dan bimbingan kepada mereka. Di sela-sela nasehat tersebut, beberapa kali beliau bersabda, “….bukankah aku telah bertabligh (menyampaikan)??”

Hampir mereka semua berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau telah bertabligh, melaksanakan kewajiban dan memberi nasehat!!”

Mendengar itu, sambil mengacungkan jari ke atas, Nabi SAW bersabda sampai tiga kali, “Ya Allah, persaksikanlah!!”

Ketika telah cukup banyak nasehat yang beliau sampaikan, tiba-tiba beliau terdiam, suatu tanda bahwa wahyu tengah turun kepada beliau. Keadaan itu tampaknya sangat memberatkan beliau sehingga beliau bersandar pada unta beliau (pada punuknya), bahkan al Qashwa sendiri tampak merasa keberatan sehingga terduduk, menempelkan perutnya di tanah.

Setelah selesai menerima wahyu tersebut, Nabi SAW langsung membacakannya kepada seluruh kaum muslimin di Arafah, yakni bagian dari QS Al Maidah ayat 3, “Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii wa rodhiitu lakumul islaama diinaa.”

Artinya adalah : Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.

Wahyu tersebut adalah ayat terakhir dalam masalah hukum atau syariat. Artinya setelah itu tidak ada lagi wahyu yang turun berkaitan dengan perintah (kefardhuan) dan larangan kepada kaum muslimin. Hari Arafah itu adalah 81 hari sebelum wafatnya Rasulullah SAW. Menurut beberapa ulama, beberapa wahyu masih turun lagi, misalnya QS Surat an Nashr yang turun pada pertengahan hari Tasyriq saat haji itu, QS An Nisa ayat 176 turun 50 hari sebelum wafat, QS At Taubah ayat 128 turun 35 hari sebelum wafat, dan yang terakhir QS Al Baqarah ayat 281 turun 21 hari sebelum kewafatan Nabi SAW.

Para sahabat yang berkumpul sangat gembira mendengar turunnya wahyu tersebut, mereka saling berkata kepada sesamanya, “Agama kita telah sempurna!!”

Tetapi reaksi Umar bin Khaththab sangat berbeda, kalau yang lainnya berseru gembira, Umar justru menangis. Ketika ada yang menanyakan sebabnya, Umar berkata, “Sesungguhnya setelah ada kesempurnaan itu hanyalah ada kekurangan!!”

Berbeda lagi dengan reaksi Abu Bakar, wajahnya langsung pucat pasi setelah Nabi SAW menyampaikan wahyu tersebut. Ia segera pulang ke rumahnya dan menangis tersedu-sedu di sana. Beberapa orang sahabat datang ke rumah Abu Bakar, dan salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Abu Bakar, mengapa engkau menangis justru pada saat yang menggembirakan ini, bukankah Allah telah menyempurnakan agama kita?”

Abu Bakar berkata, “Wahai para sahabat, kalian semua tidak menyadari musibah yang akan menimpa kalian ini. Bukankah kalian telah mengetahui, jika suatu perkara telah sempurna, maka akan terlihat kekurangannya. Ayat ini mengisyaratkan akan perpisahan kita dengan Rasulullah, tentang keberadaan Hasan dan Husain menjadi yatim (Dua orang cucu beliau ini memang lebih banyak dinisbahkan kepada Nabi SAW daripada kepada Ali bin Abi Thalib, ayahnya), tentang istri-istri beliau yang menjadi janda….!!”

Seketika mereka semua menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan Abu Bakar, bahkan ada yang menjerit penuh kesedihan. Keadaan ini mengundang perhatian beberapa sahabat lainnya dan melaporkannya kepada Nabi SAW, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan para sahabat. Mereka berkumpul di rumah Abu Bakar dan kami mendengar tangisan dan jerit kesedihan mereka!!”

Nabi SAW segera pergi ke rumah Abu Bakar diikuti beberapa sahabat lainnya, sampai di sana beliau langsung bersabda, “Apa yang membuat kamu sekalian menangis??”

Ali bin Abi Thalib yang juga berada di dalam rumah, berkata, “Abu Bakar menjelaskan bahwa dalam ayat yang baru saja engkau sampaikan itu, ia mencium ‘aroma’ akan kewafatan engkau, ya Rasulullah. Apakah memang benar seperti itu??”

Nabi SAW tersenyum, senyum yang sejuk dan menenangkan, tetapi beliau tidak mau menutup-nutupinya, beliau bersabda, “Benar apa yang dikatakan Abu Bakar, sungguh telah dekat saatnya kepergianku dari sisi kalian semua, dan perpisahanku dengan kalian semua!!”

Seketika pecahlah tangis mereka semua, termasuk sahabat yang baru datang mengiringi Nabi SAW. Akan halnya Abu Bakar, walaupun ia yang telah menduganya, tetapi begitu ucapan itu langsung keluar dari mulut Rasulullah SAW sendiri, ia tidak mampu menahan kepedihan hatinya dan seketika pingsan.

Dalam setiap pelaksanaan rangkaian ibadah haji itu, seperti thawaf, sa’i, melempar jumrah dan lain-lainnya, sering sekali Nabi SAW bersabda, “Pelajarilah manasik kalian dariku ini, karena boleh jadi aku tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini, dalam keadaan seperti ini!!”

Turunnya surat An Nashr, yakni : Idzaa jaa-a nashrullahi wal fatkhu, wa ro-aitan naasa yadh-khuluuna fii diinillaahi afwajan, fasabbikh bi khamdi robbika wastaghfir-hu innahuu kaana tawwaban, setelah terjadinya Fathul Makkah, atau menurut riwayat lain turun pada pertengahan hari Tasyriq pada saat haji Wada’ tersebut, menurut sahabat Abdullah bin Abbas merupakan isyarat yang sangat gamblang akan berpulangnya Rasulullah SAW ke hadirat Allah SWT.

Pada tahun 10 hijriah itu juga, Nabi SAW mengirimkan sahabat Muadz bin Jabal ke Yaman untuk mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada penduduknya, yang kebanyakan baru memeluk Islam setelah terjadinya Fatkhul Makkah. Sekaligus ia ditugaskan sebagai pengumpul zakat mereka. Setelah beberapa perbincangan untuk ‘mengetes’ pengetahuan Mu’adz, kemudian beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, boleh jadi engkau tidak akan bertemu lagi dengan aku sesudah tahun ini, dan boleh jadi engkau hanya akan lewat di masjidku ini, dan juga kuburanku!!”

Mu’adz menangis sejadi-jadinya. Kalau saja boleh memilih, tentulah ia ingin tetap tinggal di Madinah untuk mengisi waktu-waktu yang tersisa selalu bersama Rasulullah SAW. Tetapi tugas telah ditetapkan  dan ia tidak mungkin menolak perintah beliau. Setidaknya dengan sabda beliau itu, Nabi SAW telah berpamitan kepadanya selagi ada kesempatan bertemu. Dan memang Mu’adz tenggelam dalam tugas yang diberikan Nabi SAW di Yaman saat beliau wafat, dan baru bisa menyelesaikan tugasnya dan kembali ke Madinah saat Abu Bakar telah menjadi khalifah. Sungguh benar sekali yang diramalkan Nabi SAW, ia hanya bisa menjumpai masjid dan kuburan Nabi SAW.
subhanallah ..........

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

kecintaan sahabat rabiah kepada rasulullah saw

Para sahabat sangat mencintai Nabi SAW, yang pada dasarnya adalah juga ekspresi kecintaan kepada Allah SWT. Hanya saja setiap dari mereka berbeda dalam tingkat kecintaan kepada beliau, begitu juga berbeda cara dalam mengekspresikan kecintaannya, tetapi sebagian besar ‘tidak pernah terekam’ dalam catatan sejarah. Yang jelas mereka selalu berusaha mengikuti (ittiba’, meneladani) perilaku dan perbuatan Nabi SAW dalam batas kemampuan masing-masing.

Tidak mungkin para sahabat itu, termasuk umat beliau, ada yang bisa 100 persen seperti Nabi SAW dalam akhlak dan ibadah, karena ‘mengikuti’ memang berbeda dengan ‘menyamai’. Dan perintah Allah dalam Al Qur’an memang hanya ittiba’, seperti disitir dalam QS Ali Imran ayat 31 : Katakanlah (wahai Muhammad), "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Rabiah bin Ka'b al Aslamy adalah salah seorang sahabat yang berasal dari Kabilah Bani Aslam, salah satu dari dua kabilah yang di masa jahiliah paling ditakuti para kafilah dagang karena sering melakukan perampokan di padang pasir pada malam hari. Kabilah lainnya adalah Bani Ghifar, yang kemudian dua kabilah itu menjadi pemeluk Islam yang kokoh atas dakwah yang dilakukan oleh Abu Dzar al Ghifari. Ketika dua kabilah ini berhijrah ke Madinah dengan pimpinan Abu Dzar, Nabi SAW memandang mereka dengan mata berkaca-kaca penuh haru, kemudian bersabda, "Ghifaarun ghafarallahu laha, Wa Aslamu Saalamahallahu.” (Bani Ghifar telah diampuni oleh Allah, Bani Aslam telah diterima dengan selamat (damai) oleh Allah).

Rabiah al Aslamy adalah salah seorang Ahlu Shuffah dan ia membaktikan dirinya sebagai salah satu pelayan Rasulullah SAW. Ia bertugas untuk mengurus keperluan Nabi SAW pada waktu malam, termasuk ketika beliau akan shalat tahajud, ia yang menyiapkan air untuk wudhu atau mandi beliau. Ia dengan tekun dan sabar menjalankan tugasnya itu selama bertahun-tahun tanpa meminta imbalan, baik berupa doa, apalagi sekedar harta duniawiah.

Suatu ketika di malam hari, setelah selesai shalat tahajud, Nabi SAW memandang Rabiah dengan penuh kasih, kemudian berkata kepadanya, "Mintalah kamu kepadaku!"

Pada dasarnya Rabiah melaksanakan tugas itu dengan senang hati, didorong rasa cinta kepada Nabi SAW sehingga tidak mengharapkan balasan apapun juga. Diijinkan untuk melayani Nabi SAW sudah merupakan berkah tersendiri dan ia tidak memerlukan yang lainnya lagi.  Ia berkata, "Saya sudah cukup puas dengan bisa melayani keperluan engkau, ya Rasulullah!"

Nabi SAW tetap menyuruhnya untuk meminta, tetapi Rabiah memberikan jawaban yang sama. Ketika untuk ketiga kalinya beliau memerintahkan, ia berfikir sejenak, kemudian berkata, "Ya Rasulullah, aku hanya ingin bersama (menjadi teman) engkau di surga!"

Mungkin yang dimaksudkan Nabi SAW adalah permintaan yang sifatnya dapat dinikmati di dunia ini walau bukan duniawiah, tetapi hal itu tidak dimintanya. Justru karena itu kekaguman beliau kepada Rabiah makin bertambah, yang usianya relatif masih muda. Nabi SAW bersabda lagi, "Apakah engkau tidak memiliki permintaan yang lain lagi?"

"Tidak ada, ya Rasulullah, hanya itu yang menjadi idam-idaman saya selama ini!" Jawab Rabiah menegaskan.

Nabi SAW bersabda, "Baiklah kalau begitu, engkau harus menolong aku (mewujudkan keinginanmu itu) dengan memperbanyak sujud kepada Allah."

Setelah itu Nabi SAW berdoa kepada Allah seperti yang diminta oleh Rabiah tersebut.

Maksud ‘memperbanyak sujud’ adalah agar Rabiah memperbanyak mengerjakan shalat-shalat sunnah, selain shalat fardhu yang menjadi kewajibannya. Dan setelah itu Rabiah al Aslamy makin meningkatkan kuantitas dan kualitas shalat sunnah yang dikerjakannya.

Kisah lebih lengkap tentang sahabat Rabiah bin Ka’b al Aslamy ini bisa dilihat pada Laman facebook, “Percik Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW.”

karena bersikap bakhil atau pelit

Suatu ketika Nabi SAW dan istri kesayangan beliau, Aisyah RA sedang duduk santai, tiba-tiba datang seorang wanita muda yang menutupi tangan kanannya dengan bajunya sehingga tidak terlihat. Setelah mengucap salam dan dipersilahkan duduk, Aisyah berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak mengeluarkan tangan kananmu dari lengan bajumu??”

Wanita itu berkata, “Wahai Ummul Mukminin, janganlah engkau menanyakan hal itu kepadaku!!”

Aisyah berkata, “Engkau harus mengatakannya!!”

“Baiklah,“ Kata wanita itu, “Tangan kanan saya ini mengering dan tidak berfungsi (mati atau lumpuh), karena itu saya menyembunyikannya!!”

Kemudian wanita itu berpaling kepada Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, tolonglah tuan doakan kepada Allah, agar tanganku ini bisa pulih, utuh dan kokoh lagi seperti sediakala!!”

Nabi SAW bersabda, “Mengapa tanganmu jadi seperti itu??”

Dia berkata, “Semua ini berawal dari sebuah mimpi…”

Kemudian wanita itu menceritakan, ia bermimpi kalau hari kiamat telah tiba. Surga telah terhampar dengan indahnya, sebaliknya neraka jahanam juga telah dinyalakan dengan hebatnya. Ia melihat ibunya berada di salah satu lembah di dalam neraka. Tangannya memegang sebuah kain atau pakaian usang dan sepotong kecil daging bergajih, yang dengan dua benda itu ibunya berusaha menahan atau menghalau api yang akan menyambar dirinya. Mulutnya menjilat-jilat bibirnya sambil berkata, “Alangkah hausnya aku!!”

Melihat pemandangan yang memilukan itu, ia menghampiri ibunya dan berkata, “Wahai ibu, mengapa engkau berada di lembah ini? Bukankah engkau seorang wanita yang sholikhah, selalu taat beribadah kepada Allah, dan ayah juga ridha kepadamu saat engkau meninggal??”

Ibunya berkata, “Wahai anakku, semuanya itu benar, tetapi ketika di dunia aku termasuk orang yang pelit, sehingga di sinilah tempatku!!”

Dia berkata, “Apa maksudnya kain usang dan daging bergajih itu di tanganmu??”

Ibunya berkata, “Ini adalah balasan sedekahku di dunia, sepanjang umurku aku tidak pernah bersedekah kecuali hanya baju usang dan sepotong kecil daging. Hanya dengan dua benda ini aku mampu menghindari atau mengurangi pedihnya siksa neraka…!!”

Dia berkata lagi, “Dimanakah ayah?”

Ibunya berkata, “Ayahmu seorang dermawan, ia berada di tempat para dermawan di surga!!”

Dia segera bergerak ke surga, dan melihat ayahnya sedang memberikan minuman orang-orang dari telaga Nabi SAW. Ia segera menghampirinya dan berkata, “Wahai ayah, ibu berada di neraka dan sangat haus, ia seorang yang sangat taat kepada Allah dan engkau juga meridhainya, karena itu berilah dia air walau hanya seteguk saja!!”

Ayahnya menolak dan berkata, “Anakku, ibumu berada di tempat orang-orang yang bakhil dan berdosa, Allah mengharamkan air telaga Nabi SAW ini bagi mereka!!”

Karena rasa cinta dan kasihan terhadap ibunya, sang anak nekad mengambil segelas air dan membawanya ke neraka, kemudian memberikan kepada ibunya. Tetapi ketika sang ibu mulai meminumnya, terdengar sebuah suara, “Semoga Allah melumpuhkan tanganmu, karena engkau telah memberikan minuman orang yang pelit dan durhaka dari telaga Nabi Muhammad SAW!!”

Wanita itu mengakhiri ceritanya dengan berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat terkejut dan takut mendengar ucapan itu, kemudian terbangun. Dan saya terbangun dengan keadaan tangan kanan saya yang seperti ini!!”

Nabi SAW berseru, “Subkhanallaah, sifat bakhil ibumu telah menghukummu di dunia ini, bagaimana dengan hukumannya di akhirat nanti??”

Kemudian Nabi SAW meletakkan ujung tongkat beliau di tangan kanannya yang telah lumpuh dan mengering itu sambil berdoa, “Ya Allah, dengan kebenaran mimpi yang dituturkan wanita ini, sembuhkanlah tangannya seperti sediakala!!”

Dengan ijin Allah, tangannya kembali sembuh seperti sediakala, dan ia bersyukur kepada Allah serta mengucapkan terimakasih tak terhingga kepada Rasulullah SAW.
wallahu a'lam bishowab

sumber artikel by :
aplikasi "kisah hidup nabi muhammad saw" on google play

ahli ibadah yang terjatuh pada cinta duniawi

Tsa’labah bin Hathib al Anshari adalah seorang abid (ahlul ibadah) yang seringkali disebut sebagai merpatinya masjid Nabi SAW. Sebutan itu muncul karena waktunya banyak dihabiskan di masjid, baik ketika Nabi SAW sedang berada di sana atau tidak ada, baik siang ataupun malam. Karena banyaknya shalat sunnah yang dilakukannya, dahinya sampai membekas seperti lutut unta. Tsa’labah memang seorang sahabat Anshar yang miskin, ia tidak mempunyai ternak untuk digembalakan ataupun kebun kurma untuk dirawat atau dipeliharanya.

Suatu ketika Nabi SAW melihat perilaku yang aneh dari Tsa’labah dalam beberapa hari terakhir. Setiap kali selesai mengucap salam untuk menutup shalat, ia langsung beranjak meninggalkan masjid tanpa menunggu dzikr dan berdoa bersama Rasulullah SAW, ataupun mengerjakan shalat sunnah seperti sebelumnya. Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW memanggilnya dan bersabda, “Wahai Tsa’labah, mengapa engkau melakukan sesuatu seperti yang dilakukan kaum munafik, usai shalat langsung bangkit meninggalkan masjid?”

Istilah populernya sekarang adalah ‘lamcing’, setelah salam langsung ‘plencing’ (pergi atau keluar, bahasa jawa). Maka Tsa’labah berkata,”Wahai Rasulullah, saya langsung keluar masjid setelah shalat, karena dalam beberapa hari ini kami tidak memiliki kain yang mencukupi (untuk menutup aurat). Saya segera pulang karena istri saya menunggu kain yang saya pakai ini, untuk melaksanakan shalat..!!”

Nabi SAW mengangguk penuh pengertian. Tetapi Tsa’labah berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia memberikan rezeki yang banyak kepada kami!!”

Beliau bersabda, “Wahai Tsa’labah, harta yang sedikit tetapi kamu bisa mensyukurinya, itu lebih baik daripada harta yang banyak tetapi kamu tidak kuat dan tidak bisa mensyukurinya!!”

Mendengar nasehat beliau itu, Tsa’labah berpaling dan pulang. Tetapi keesokan harinya ia menghadap Nabi SAW lagi dan berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia memberikan rezeki yang banyak kepada kami!!”

Kali ini Nabi SAW berkata agak keras, “Wahai Tsa’labah, belum cukupkah bagimu diri Rasulullah ini sebagai suri teladan? Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya, jika aku menghendaki gunung-gunung menjadi emas dan berjalan bersamaku, tentu hal itu menjadi kenyataan. Tetapi aku tidak melakukannya, dan tetap bersabar dengan apa yang ditetapkan-Nya untukku!!”

Tampaknya Nabi SAW, tentunya dengan pandangan kenabian, mengetahui bahwa tipikal orang seperti Tsa’labah itu akan terjerumus jika bergelimang dengan harta benda. Karena itulah beliau tidak mau mendoakannya, tetapi meminta dirinya untuk qana’ah dan bersabar dalam keadaan miskin dan kekurangan seperti itu. Tentu saja Nabi SAW menyikapi seperti itu karena kasih sayang beliau kepada umat Islam seluruhnya, khususnya kepada Tsa’labah yang telah begitu intent dalam mengerjakan shalat di masjid beliau, baik shalat fardhu ataupun shalat sunnah.

Tetapi sepertinya Allah ingin memberikan suatu pelajaran berharga bagi kita, dengan menunjukkan peristiwa nyata yang dialami sahabat Nabi SAW yang satu ini. Keesokan harinya Tsa’labah datang lagi menghadap Nabi SAW, dan dengan yakinnya ia berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah untukku, agar Dia memberikan rezeki yang banyak kepada kami. Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan haq sebagai nabi, jika Allah telah memberikan rezeki kepadaku, pastilah akan saya berikan hak setiap orang yang berhak atas harta tersebut (yakni, ia berjanji akan membelanjakan hartanya di jalan Allah)!!”

Dua kali sudah Nabi SAW ‘menolak’ mendoakan, dan menasehatinya untuk menerima takdir Allah sebagai pilihan terbaik dalam hidup. Tetapi Tsa’labah masih memaksa juga, maka beliau tidak banyak berbicara lagi kecuali mendoakan, “Ya Allah, berilah Tsa’labah rezeki harta!!”

Beliau memerintahkan seorang sahabat lainnya untuk memberi Tsa’labah seekor kambing yang sedang bunting. Tsa’labah pulang dengan suka cita karena doa Nabi SAW tersebut, juga karena membawa seekor kambing yang sedang bunting. Sedangkan Nabi SAW mengiringi kepergian Tsa’labah dengan pandangan sedih dan khawatir.

Pada hari-hari pertama sebagai ‘peternak’ kambing, Tsa’labah masih aktif hadir di masjid Nabi SAW seperti biasanya. Tetapi dalam beberapa bulan saja kambingnya berkembang semakin banyak, dan ia harus menggembalakannya hingga ke pinggiran kota Madinah. Ia hanya bisa berjamaah bersama Nabi SAW pada waktu Zhuhur dan Ashar, selebihnya ia hanya shalat di antara kambing piaraannya. Tidak cukup sampai di situ, karena kambingnya yang semakin banyak, ia harus menggembalakannya hingga jauh ke luar Madinah, sehingga ia tidak hadir berjamaah bersama Nabi SAW kecuali saat shalat Jum’at saja.

Ketika kambing-kambingnya telah memenuhi suatu lembah, bahkan lebih, Tsa’labah tidak lagi hadir pada shalat Jum’at di Masjid Nabi SAW. Layaknya seorang ‘konglomerat’ kambing yang tenggelam dalam kesibukan mengurus bisnis dan pekerjaannya, ia menganggap shalat itu hanya menjadi gangguan dan ‘mengurangi’ keuntungannya. Segala sesuatu diukurnya dengan materi (dalam hal ini kambing), dan dengan uang. ‘Time is money’ kata orang sekarang.

Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepada para sahabat, “Apa yang dilakukan Tsa’labah??”

Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dia sibuk mengurusi dan menggembalakan kambing-kambingnya yang tidak cukup hanya dalam satu lembah saja!!”

Nabi SAW bersabda, “Aduhai, celakalah Tsa’labah!!”

Ketika turun wahyu yang memerintahkan untuk mengeluarkan zakat, Nabi SAW mengutus dua orang sahabat untuk mengambil zakat dari kaum muslimin yang hartanya telah memenuhi haul dan nishabnya, termasuk di antaranya Tsa’labah. Semua yang didatangi oleh dua sahabat itu dengan senang hati mengeluarkan zakat, bahkan tidak jarang mereka memberikan lebih banyak daripada perhitungan nilai zakat yang dilakukan dua sahabat tersebut.

Tetapi ketika mereka berdua mendatangi Tsa’labah dan membacakan ayat yang turun berkaitan dengan kewajiban zakat, mereka mendapat penolakan. Tsa’labah yang mereka kenal sangat salehnya (pada saat belum kaya raya), berkata, “Ini tidak lain adalah penarikan upeti atau pajak!! Biarkanlah aku berfikir dan berbuat menurut pendapatku, kembalilah lagi kalian ke sini di lain waktu!!”

Mereka berdua kembali ke Madinah dan melaporkan hasil kerjanya mengumpulkan zakat, termasuk sikap Tsa’labah, maka Nabi SAW bersabda, “Aduhai, celakalah Tsa’labah!!”

Namun demikian Nabi SAW masih mengirimkan dua orang sahabat lainnya menemui Tsa’labah untuk memperhitungkan dan menarik kewajiban zakatnya. Beliau masih berharap dia akan menjadi baik dan mau mengeluarkan zakatnya, seperti yang dijanjikannya kepada dua sahabat terdahulu. Tetapi ketika dua sahabat itu kembali menghadap Nabi SAW dengan tangan hampa, Nabi SAW bersabda, “Sungguh celakalah Tsa’labah, sungguh celakalah Tsa’labah!!”

Tidak lama kemudian turun wahyu Allah, yakni QS At-Taubah ayat 75-76 : Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.” Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

Ayat ini menggambarkan sikap yang dilakukan oleh Tsa’labah, bahkan ayat selanjutnya, QS At-Taubah 77 menyatakan :  Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.

Setelah Nabi SAW mengumumkan turunnya wahyu Allah berkenaan dengan Tsa’labah, salah seorang sahabat yang masih kerabatnya bergegas menemui dirinya untuk menyampaikan wahyu tersebut. Wajah Tsa’labah langsung memucat penuh ketakutan setelah mendengar wahyu Allah tersebut. Ia bergegas membawa kambing sebanyak yang ia mampu, bahkan mungkin melebihi kewajiban zakatnya, menuju Madinah. Sesampainya di masjid dan menghadap Nabi SAW, ia berkata, “Wahai Rasulullah, inilah zakat dari harta saya!!”

Tetapi Nabi SAW bersabda, “Allah telah melarang aku menerima zakatmu!!”

Tsa’labah menangis penuh penyesalan, sambil menghiba-hiba dan meminta agar beliau mau memaafkan dan menerima zakatnya. Tetapi dengan tegas Nabi SAW bersabda, “Pergilah sana, urusi saja pekerjaanmu sendiri. Aku telah memerintahkan kepadamu berzakat, tetapi engkau menentang dan tidak taat pada perintahku!!”

Tsa’labah berlalu dari masjid Nabi SAW dengan kesedihan dan duka yang mendalam, ia menaburkan pasir di kepalanya sebagai bentuk penyesalan dan kehinaan diri.

Setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar dibai’at sebagai khalifah beliau, Tsa’labah mendatanginya dengan membawa banyak sekali kambing yang dimilikinya, dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, terimalah zakatku ini!!”

Abu Bakar menolaknya dan berkata, “Rasulullah tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku akan menerimanya??”

Ketika Abu Bakar wafat dan digantikan oleh Umar bin Khaththab, lagi-lagi Tsa’labah mendatanginya sambil membawa sebagian hartanya, dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, terimalah zakatku!!”

Umar menolaknya dengan berkata, “Bagaimana mungkin aku menerima zakatmu, sedang Rasulullah SAW dan Abu Bakar tidak mau menerimanya!!”

Ketika Umar wafat dan digantikan Utsman, Tsa’labah masih tidak putus asa mencoba membayarkan zakatnya, tetapi khalifah Utsman juga menolaknya sebagaimana dua khalifah pendahulunya. Akhirnya Tsa’labah meninggal pada masa khalifah Utsman ini dalam keadaan miskin dan terhina.

Beberapa ulama berbeda pendapat tentang kematiannya ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa walau tidak sampai murtad (keluar dari Islam), tetapi ia dianggap sebagai kelompok orang-orang munafik sebagaimana disinyalir dalam QS at Taubah ayat 77. Tetapi pendapat lainnya menyebutkan, bahwa ia telah menyesal begitu hebatnya, hingga berusaha keras membayar zakatnya hingga masa khalifah Utsman, walau memang tetap ditolak. Dengan upaya tobatnya seperti itu, ia tetap dalam kontek seorang muslim yang bermaksiat, tetapi tidak sampai jatuh dalam kaum munafik. Terserah kepada Allah, apakah ia akan diampuni, atau diazab lebih dahulu untuk membersihkan dosa-dosanya. Wallahu A’lam. 

sumber artikel by :
aplikasi Kisah hidup nabi muhammad saw on google play...